Belajar dari Lomba Fotografi Pesona Bawean 26-28 Oktober 2017 di Pulau Bawean, Gresik



            Lomba foto ini sangat menarik, karena memiliki konsep photo tour. Lomba foto ini diselenggarakan UPT. Taman Budaya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Biaya yang dikeluarkan tentu saja cukup besar, karena fotografer (pecinta foto) yang ikut lomba ini dibiayai oleh penyelenggara, yakni transporasi, penginapan, uang saku maupun mendapatkan koas gratis.

            Lomba foto ini dilakukan seleksi awal lewat foto yang dikirim melalui email, melakukan perjalanan tour mengabadikan pesona Pula Bawean dan penjurian lomba on the spot. Langkah pertama menyeleksi peserta yang ikut lomba foto.  

1. Peserta lomba diwajibkan mengirimkan tiga foto tentang pariwisata Jawa Timur, dapat meliputi pilihan alam, festival, budaya, heritage maupun wahana (batas tahun pemotretan bebas)
2. Kirim 3 foto ke email: lombafotopesonabawean@gmail.com
3. Sekaligus dilengkapi biodata nama, alamat, no telpon, foto KTP/SIM
4. Kirim foto minimal 3MB maksimal 15 MB, dengan resolusi 72-300 dpi.
5. Batas waktu pengumpulan terakhir 21.00 wib, 19 Oktober 2017 
6. kirim foto Budaya-Pariwisata berbeda tiap fotonya. Jadi, jangan mengirim hanya satu tema foto. Misalnya tiga-tiganya landscape saja
7. Free: Transport, Akomodasi & Makan

Sebanyak 238 email peserta masuk di email lombafotopesonabawean@gmail.comhingga 21.00 wib, 19 Oktober 2017. Foto-foto itu dikumpulkan 5 team leader dan diseleksi oleh 3 orang tim dewan juri yang telah ditunjuk penyelenggara UPT. Taman Budaya. Yakni:
1.     Dr. Yoeyoeng Abdi (Yuyung Abdi) sebagai fotografer professional, fotografer media dan pengajar fotografi.
2.     dr. Zainal Andy sebagai fotografer professional dan dokter spesialis
3.     Alfon Iskandar Wikardo sebagai pengusaha muda dan fotografer pemenang lomba tingkat nasional.

Ketiga tim dewan juri ini menyeleksi peserta yang telah mendaftar, tercatat dan telah memasukan foto di email yang telah ditentukan panitia lomba. Dari seleksi ini tim juri memetapkan fotografer terpilih adalah 75 fotografer terbaik. Jumlah fotografer ini belum termasuk fotografer lokal dan media (Gresik) untuk berangkat ke Pulau Bawean.

Team Leader & foto acara:
Aries: 0821-3935-5082, Ifan: 0822-3007-5778, Ivu Fajar: 0812-1425-5559, Cupetong  dan Hasan Ali (Celana Sobex)

Penyelanggara:
UPT. Taman Budaya 
Dinas Kebudayaan d& Pariwisata
Provinsi Jawa Timur

Pada tanggal 20 Oktober 2017 diumukan peserta terpilih yang berhak mengikuti Lomba Foto Bawean adalah:
Parulian, Surabaya
Dede Sudiana, Bogor
Taufiqur Rohman, Sidoarjo
Andre Azhari, Kediri
Vicentius Nono, Sidoarjo
Yusuf Yuhabudin, Pandaan
Beny Arianto, Sidoarjo
Meru Bramantya, Malang
Faizal Johan Atletiko, Surabaya
Muhammad Muharer, Surabaya
Winarno Hidayat, Surabaya
Kolit Sulistiyawan, Semarang
Akhmad Fauzan, Mojokerto
Rismiyanto, Jember
Priyono, Surabaya
Jasman, Kabupaten Kediri
Wahyu, Budianto Bojonegoro
Agung Ananto Nugroho, Semarang
Mohammad Samsul Hadi, Pamekasan
Andhika Dwi Nugraha, Pasuruan
Ribut Bagus Merwanto, Surabaya
Ais Iqbal, Gresik
Slamet Raharjo, Lumajang
Surya Wibisono, Lumajang
Suprapto, Malang
M. Joko Apriyo Putro, Malang
Muhammad Hidayat, Jogjakarta
Prianto Puji Anggriawan Kabupaten, Probolinggo
Rochana Saraswati, Jember
Tan Josua Victor Tanugerah, Surabaya
Fajar Hengki Wijaya, Sidoarjo
Sri Rahayu Retnoningsih, Malang
J. Ady Kusmana, Malang
M. Sofyan Sauri, Surabaya
Syarifuddin, Gresik
Isna Fauzia Rahmah, Malang
Puguh Wahyu, Sidoarjo
Christanto Wahyu, Sidoarjo
Mohammad Redy, Pamekasan
Ahmad Nafik Nadzir ,Surabaya
Jatmiko Bagus Suputro, Kediri
Sektianawati Rahayu, Sidoarjo
Purwaning Lestari, Jombang
Monica Anantyowati, Malang
Hendy Wicaksono, Surabaya
Suhirno, Situbondo
Sufaidah, Surabaya
Essa mahadias, Surabaya
Trisno Budi Utomo, Lamongan
Achmad Lubis Yulianto, Surabaya
Andri Suryadi, Sidoarjo
Furkanadi Raditex Budi, Klaten Utara
Alberta Noviandanu, Kediri
Aswin Rizky Wardhana, Sidoarjo
Amri Nizar Zein, Surabaya
Adam Victor handoyo, Kota Kediri
Ahmad Samsudin, Semarang
Eko Kintoko Kusumo, Situbondo
Thomas K. Indra Darmawan, Surabaya
Lucky Steven, Sidoarjo
Petrus Tulus Dermawan, Lumajang
Jamal Eko Winarto, Jember
Hengky Khresno Purwoko, Gresik
Eddyan Sonjaya, Surabaya
Alamul Huda Ahfad, Bangkalan
Nur Sugiyanro, Pamekasan
Didik Iwanro Kota, Kediri
Dominikus Da Silva, Surabaya
Heni Novita Sari, Probolinggo
Bagus Ardiyanto, Pamekasan
Subandji Sadeli, dr., Sp.THT-KL, Surabaya
Doris Sujatmiko Kabupaten, Kediri
Tonny Hansen Soesanto, Sidoarjo
Koesnoel Tjahjadi, Gresik
M. Taufik, Gresik
M. Amin Alamsyah, Gresik
Abdul Jalu, Gresik
Mahbub Junaidi, Gresik
Fuad Zain, Gresik
F. Ainur Rofiq, Gresik
Yudi Dwi Anggoro, Gresik

Peserta diajak mengunjungi pulau eksotik tersebut selama 3 hari, mulai 26-28 Oktober 2017 di Pulau Bawean. Seratus peserta lomba foto hasil seleksi tahap awal berkumpul di UPT Dinas Budaya dan Pariwisata Jawa Timur di Gentengkali, Surabaya. Mereka diberangkatkan menggunakan bus menuju ke Pelabuhan Gresik. Rombongan fotografer naik kapal feri cepat menuju pulau Bawean. Ditempuh selama  3,5-4 jam perjalanan. Fotografer yang tak tahan gelombang laut, sebagian mutah. Pulangnya tidak bisa langsung, lantaran gelombang air nya tinggi, sehingga harus ditundah beberapa saat. 

Di tempat pelabuhan Bawean, peserta turun dari kapal diantarkan menggunakan mobil untuk menuju penginapan di dekat pelabuhan. Peserta juga dapat berjalan kaki untuk penginapan tidak jauh dari pelabuhan. Dari sejumlah 100 peserta dibebaskan untuk mengekplorasi foto pemandangan Bawean, kerajinan, danau, pantai, lapangan terbang, kehidupan masyarakat, bawah air, pulau Gili Noko dan lain-lain. Peserta diberi waktu 2 hari untuk mendapatkan foto tentang Bawean. Peserta mengumpulkan 5 foto diserahkan ke panitia. Foto dijuri secara terbuka dan dapat disaksikan secara langsung saat itu juga (on the spot). Foto juara tidak didasarkan penjumlahan dari beberapa karya satu peserta, tapi dipilih foto terbaiknya.


Pada tanggal 27 Oktober 2017 pukul 21.00 WIB, foto dikumpulkan ke team leader. Kemudian hasil foto dibahas mengapa foto ini terpilih dan tidak. Dibahas dari pilihan objek foto, ikonitas, symbol visual, aspek teknis, lighting, warna dan dimensi visual (angle, jarak pengambilan, format, komposisi). Diskusi terbuka ini, semua peserta jadi memahami apa kelebihan dan kekurangan fotonya. Gurauan dan canda mengiringi pembahasan foto. Hingga lebih satu jam, peserta tidak beranjak di tempat penginapan yang dijadikan ajang pembahasan foto. Pemenang Lomba Fotografi Pesona Bawean 2017 diumumkan pada malam seni, 28 Oktober 2017 di alun-alun.

Furkanadi Raditex Budi Klaten Utara Juara I
Rismiyanto Jember Juara II
Eddyan Sonjaya Surabaya Juara III
Meru Bramantya Malang Harapan I
Prianto Puji Anggriawan Kabupaten Probolinggo Harapan 2
Jasman, Kabupaten Kediri Harapan 2

Fajar Hengki Wijaya Sidoarjo Nominator 1
Parulian Surabaya Nominator 2
Yusuf Yuhabudin Pandaan Nominator 3
Suprapto Malang Nominator 4
Muhammad Hidayat Jogjakarta Nominator 5
Mohammad Redy Pamekasan Nominator 6
Essa mahadias Surabaya Nominator 7
Didik Iwanro Kota Kediri Nominator 8
Doris Sujatmiko Kabupaten Kediri Nominator 9
Yudi Dwi Anggoro Gresik Nominator 10

Pemenang lomba:
Juara 1 mendapat 6 juta + tropi
Juara 2 mendapat 5 juta + tropi
Juara 3 mendapat 4 juta + tropi
Juara Harapan 1 mendapat 3 juta + tropi
Juara Harapan 2 mendapat 2,5 juta + tropi
Juara Harapan 3 mendapat 2 juta + tropi
10 monitator masing-masing mendapat 750 ribu + tropi

juara 1

juara 2

juara 3
harapan 1

harapan 2

harapan 3











Cerita lain fotografer kemasukan Jin di Danau Kastoba
Malam hari, saya dilapori ada peserta lomba terkena “ sambet” jin di Danau Kastoba, Baewan, tanggal 27 Oktober 2017, waktu magrib. Sampai tengah malam, saya menunggu kabar berita dari teman-teman team leader terjun ke Kawasan itu. Sesampai di penginapan,  Heni Novita Sari yang kemasukan jin ini bercerita kepada saya. Heni bercerita ada dua orang perempuan penunggu di danau tersebut saat mulai datang di danau. Yang satu berbaju hijau pupus tinggi & satu lagi berbaju putih gading lebih gemuk dengan rambut panjang. Mereka berada di bawah pohon beranting & yg lain di bawa pohon yg tumbang.

Saat lomba foto pesona Bawean, Heni memang salah satu dari 75 peserta yang terpilih seleksi awal. Bersama dua orang teman, perempuan dan pacarnya berusaha mencapai danau Kastoba untuk mengabadikan foto. Memang Daunau ini menarik, tapi penuh mistis. Perjalan dari alun-alun pulau Bawean menuju Danau Kastoba sekitar 1 jam. Sedangkan untuk menuju ke danau sekitar 400 m dari tempat parkir motor. Arah ke danau dilewati dengan dua kali jalan mendaki sebanyak dua kali, Kawasan ini  masih berupa hutan. Heni datang di tempat parkir sebelum menuju ke Danau sekitar 16.00. Mereka berjalan sekitar 20 menit. Sesampai di danau, Rupanya mereka haus, sehingga mereka mengambil air di danau itu untuk diminum. Setelah mengambil air di masukkan lah di botol air mineral yang mereka bawa, mereka satu sama lainnya meminumnya. Sisa sedikit, Heni membawa air nya di botol pastik, agar dapat diminum lagi saat pulang. 

Jam 17.00 mereka meninggalkan danau menuju tempat parkir. Penunggu nya, tidak terima air yang mereka bawa. Atas saran temannya, air dalam botol itu suruh buang. Tapi, penunggunya semakin beringas dan marah ke Heni. Mereka saling berebut masuk ke tubuh Heni. Heni semakin cepat jalannya. Para penunggu ini mengeluarkan suara melengking sehingga memekakkan telinga heni. Heni tidak kuat lagi. Akhirnya, para penunggu masuk ke dalam tubuh Heni. Heni sebenarnya sudah berupaya menguatkan diri, tapi dia tampak lemas. Dia membaca ayat Kursi, tapi penunggunya balik membaca surat Yasin. Dia baca ayat kursi lagi, penunggu baca surat Al Baqarah. Dia gak kuat lagi, terus digendong pacarnya turun ke bawah perkampungan. Di tempat inilah, Heni melihat sukmanya melayang, sekaligus melihat tubuhnya di masukkin penunggu itu. Heni mulai histeris dan meronta, bukan terlihat sebagai Heni lagi. 

Ada orang berilmu  membantu mengeluarkan dari tubuhnya. Ia merasakan antara sukmanya keluar & masuk pada tubuhnya, berkali-kali. Teman-teman di musola di parkiran bawah, berusaha menghubungi panitia. Tim membawa mobil menuju ke danau. Tapi karena juga tidak hapal jalan kearah sana. Akhirnya tersesat juga, baru nyampe di tempat pukul 10 malam.

Saya sendiri sore itu bersama 6 orang baru nyampai penginapan, setelah kesasar (salah jalan)  ke danau Kastoba. Ternyata salah jalan kami, rupanya Allah menyelamatkan dari tragedi ini. Pak lurah menunjukkan dan membantu evakuasi Heni ke penginapan rekan-rekan lomba foto. Sedangkan motornya dibawa panitia hingga tiba jam 1 malam di penginapan. Saat di bawa ke mobil, Heni tetap selalu dimasuki, hingga terdengar suara lolongan dan lengkingan penunggunya. Tapi, setelah jauh dari danau. Perlahan mulai hilang, hingga sampai di penginapan dengan selamat. Tenangnya danau ini, tidak setenang ketika seseorang dianggap mengganggu ketenangan penunggunya.

Dr. Yuyung Abdi
Penulis Buku, Fotografer Profesional dan Dosen Pasca Sarjana

Post a Comment

0 Comments