Perensensi Buku Prostitusi Kisah 60 Daerah Indonesia


Perensensi
Prof. Rachma Ida, Dra., M.Comm., Ph.D 
Guru Besar Universitas Airlangga




Judul Buku 
Prostitusi Kisah 60 daerah di Indonesia
Pengarang:
Dr. Yuyung Abdi
Penerbit: 
Airlangga University Press
Edisi:
Pertama, 2019
Halaman:
310 halaman
ISBN:
978-602-473-055-0

Industri seks dan prostitusi di Indonesia membuat terbelalak semua mata, jika benar-benar dibongkar, diteliti, dan dipresentasikan. Dunia akademik selama ini seolah tidak berani menyentuh fenomena industri yang satu ini karena keterbatasan akses dan ketidak-beranian mengungkap fakta-fakta lalu menariknya menjadi abstraksi teoritik atau proposisi-proposisi kritis ilmiah yang layak dipertanggungjawabkan dalam forum akademik ilmiah dan juga forum-forum kebebasan mimbar publik. 
Dr. Yuyung Abdi telah menerobos sekat-sekat sulit yang challenging (menantang) dan berbau privat untuk mengungkap fenomena pekerja seks dan industri seks di Indonesia (dan inilah karya pertama di Indonesia bahkan di Asia dan internasional) yang mengungkap data tentang eksistensi keberadaan industri seks (prostitusi) di berbagai daerah di Indonesia dan di kelas-kelas sosial masyarakat urban di Indonesia. Melalui riset 10 tahun (2 tahun dalam penyelesaian riset untuk Master/S2 dan 8 tahun untuk riset Doktoral/S3 dan hunting), Yuyung Abdi berhasil melakukan studi terkait dengan industri seks dalam pendekatan kajian media (Media Cultural Studies) yang belum pernah dilakukan oleh akademisi dan ilmuwan Indonesia. 
Melalui kajian Lens Phenomenology, yang juga merupakan metode penelitian baru yang belum pernah dilakukan ilmuwan Ilmu Sosial, Seni dan Humaniora di Indonesia, bahkan di Internasional, studi yang dilakukan Yuyung Abdi ini adalah “breakthrough” bagi studi-studi Media dan Budaya di Indonesia & internasional. Buku ini membuktikan lensa kamera sebagai “regime” penglihatan menjadi alat metodologi untuk mengungkap fenomena sosial masyarakat. 
Di kota besar afiliasi tempat hiburan dan prostitusi menggeser peran
lokalisasi. Integrasi tempat hiburan dengan pelacuran menjadi metamorfosis
konsep prostitusi. Bertumbuhnya rumah kos dan apartmen dipenuhi perempuan hiburandi tarakan dan Pontianak, hotel kelas bawah dijadikan tempat transaksi sekaligus tempat eksekusi seksual. 
Beragam jenis prostitusi saling bermunculan. street prostitution, online prostitution, hotel, pijat, hiburan (kafe, pub & karaoke), sex house, maupun
lokalisasi.  Terjadi layanan prostitusi dengan system terkonsentrasi di tempat hiburan atau pelacuran sekaligus terdistribusi secara personal. Muncul perempuan bekerja dalam dunia prostitusi  secara independen, seperti prostitusi artis/model maupun online. Prostitusi personal ini melahirkan  nilai, dimana nilai tertinggi penjual jasa seks tidak selalu berdasarkan fisik tubuh, tapi status, usia, popularitas yang melekat pada fisik. Body, performance, place, space, dan identity itu menentukan harga perempuan. Perempuan akhirnya menjual symbol/status yang melekat pada tubuhnya.
Prostitusi sebenarnya berhubungan perempuan dengan tingkatan estetik, identitas, maupun medium transaksi. Identitas ini memiliki pembeda harga dalam prostitusi. Popularitas, estetikasi tubuh, status kerja, status sekolah, usia, keperawanan menentukan nilai jual dalam transaksi seks. Seks jadi terkomoditaskan dengan representasi simbol-simbol tubuh sehingga memilki nilai ekonomis.
Perempuan pekerja seks itu hampir selalu bertidak multi partnering, yakni memiliki hubungan dengan berbagai konsumen. Ada laki-laki membiayai dan menjadikan perempuan simpanan. Ada juga perempuan justru membiayai laki-laki. Meskipun perempuan pekerja seks melayani konsumen seksualnya, tetapi sebenarnya dia tidak mendapatkan kepuasan seks. Bekerja melayani
seks konsumennya, berbeda dengan perempuan saat menikmati seks
sebagai rekreasi. 
Prostitusi tidak selalu berbanding lurus dengan kemiskinan. Uang (materi), tubuh, hasrat seksual dan cinta adalah aspek yang menyertai perempuan penjual jasa seks. Dalam pelacuran, perempuan tidak selalu berada dalam ketertindasan (subordinat). Kadang memainkan peran dalam posisi
superordinat. Dengan tubuhnya perempuan memainkan power untuk
menundukkan laki-laki. Laki-laki lah yang dipelihara perempuan.
Ini sebabnya, mereka  mencari pacar untuk memuaskan hasratnya. Padahal mereka banyak melayani hasrat laki-laki. Laki-laki ini lah yang akan memberi perhatian maupun kasih sayang, meskipun kadang juga artifisial. Akibatnya uang (materi) yang perempuan dapat, dikuras oleh pacarnya. Ini
salah satu penyebab keterpurukan perempuan di dunia prostitusi.
Di Indonesia, rotasi, migrasi, transfer, mutasi, promosi pelacur, dibagi menjadi tiga jalur utama. Yang pertama adalah migrasi pekerja seks jalur barat. Transfer ini umumnya berawal dari Jawa Barat, Daerah sekitar Bandung hingga Indramayu. Para mojang geulis di daerah tersebut kerap dibawa para calo ke  Jakarta, Batam, Lampung, Palembang, Bengkulu, Riau, Jambi, dan Medan. 
Migrasi pekerja seks jalur tengah adalah para perempuan dari wilayah Jawa Tengah. Pekerja seks ini mengais rejeki di Semarang terlebih dahulu atau hanya sebagai tempat singgah. Mereka berasal dari sekitar Semarang,yakni Pati, Blora, Kendal, Pekalongan, Purwokerto. Pekerja seks selanjutnya mengadu nasib ke Kalimantan Tengah lewat Pangkalan Bun, lantas menuju Sampit, Palangkara. Ada juga ke Samarinda maupun Balikpapan.
Dalam transfer pekerja seks di bagian timur Indonesia, Surabaya jadi transit perempuan sebelum dikirim menuju Banjarmasin, Batu Licin, Balikpapan, Samarinda, Tarakan, Palangkara, Muara Teweh, Makassar, Ambon, Tual (Kepulauan Aru), hingga Papua. Sebelum menuju kawasan itu, Surabaya menjadi tempat transit bagi para pekerja seks dari Jatim dan sebagian Jawa Tengah. Para pekerja seks itu didominasi perempuan dari kawasan Malang selatan, Banyuwangi, Blitar, atau Jember.
Bali dan Batam menjadi destinasi wisatawan dari pelosok mana pun, termasuk menjadi mimpi bagi para pekerja seks komersial. Sebagai tempat kunjungan kerja dan wisata, Bali dan Batam memiliki karakteristik prostitusi hampir sama. Tipologi prostitusi dua daerah ini memiliki kemiripan pada sisi masifitas migrasi, rotasi perempuan penjual jasa seks yang mencari keberuntungan. Salah satu problem daerah wisata adalah munculnya pelacuran. 
Kalau dicermati  pelacuran telah merajalela dan mengakar di negeri ini. Para pelakunya memandang prostitusi sebagai sebuah bisnis yang menggiurkan dan dipandang bukan sebagai persoalan krusial.
Buku ini diharapkan memberikan sumbangan secara akademik sekaligus super penting bagi pembuat kebijakan (policy maker) di Indonesia untuk memikirkan industri kenikmatan (pleasure), komodifikasi tubuh & kulit (body and flesh), dan cengkeraman yang mengikat perempuan yang selalu menjadi korban yakni kapitalisasi (ekonomi) & keterpurukan moral manusia 

Post a Comment

0 Comments