Wawancara TVone "Dolly antara hidup dan mati"


Semula, identitas Dolly sebagai lokalisasi pelacuran menempatkan ikonnya melebihi nama kota. Meski ikon itu telah meredup begitu pemerintah Surabaya berhasil meraih sederet predikat kota terbersih, city of future, ternyaman, maupun terindah. Setelah pencapain itu, tentu, ikonitas Dolly menjadi noda dari seluruh predikat yang disandang. Untuk itulah, Dolly perlu dihapus. Namun, menghapus Dolly memang sebuah prestasi untuk sebuah citra, tapi belum tentu prostitusinya juga terhapus. 
            Sebab, prostitusi itu bukan hanya lokalisasi. Prostutusi punya bermacam medium/sarana transaksi untuk penyaluran hasrat seksual. Dimanapun transaksi dapat terjadi. Sarana transaksi prostitusi itu tidak hanya lokalisasi. Lokalisasi hanyalah salah satu tempat (place) dalam medium transaksi. Kini, model transaksi menggunakan tempat pelacuran yang berafiliasi dengan hiburan justru lebih banyak dan bersifat divergen. 
            Di kota besar, afiliasi tempat hiburan dan prostitusi menggeser peran lokalisasi. Integrasi tempat hiburan dengan pelacuran jadi metamofosis konsep prostitusi. Panti pijat, spa, karaoke, club, pub, café, diskotik, hotel short time,  mega entertainment bisa menjadi pengalihan fungsi tempat hiburan menjadi transaksi prostitusi total atau parsial. Bentuk sintesis ini selalu terhindar dari peraturan. Tempat hiburan sudah mengganti peran rumah bordil sesuai dengan perkembangan kota metropolitan.
            Begitu juga, transaksi seksual juga tidak lagi memerlukan tempat ketika menggunakan medium media sosial, iklan media cetak dan ponsel. Jaringan komunitas dalam melakukan transaksi seksual lebih tidak terlihat. Oleh sebab itu, sarana tidak selalu tetap. Tidak perlu lagi penjaja seks berada di pinggir jalan. Cukup nongkrong di café, di aparteman, maupun kos di menunggu panggilan. 
            Alasan yang cukup kuat pemerintah Surabaya menutup lokalisasi setelah banyak korban anak-anak laki yang mengkonsumsi seks pada usia dini. Begitu juga anak perempuan belia yang dijual lewat teman sebayanya. Sebelum tahun 2009, prostitusi di Surabaya tidak terkontol. Bermunculannya penjaja seks di 21 titik di pinggir jalan besar Surabaya tahun 2001. Pada tahun 2010 pemkot Surabaya berhasil menghilangkan street prostitution. Setelah itu, diungkapnya 14 kasus transaksi seks lewat ponsel oleh Polrestabes Surabaya, tahun 2011 menjadi langkah maju memberantas prostitusi. Langkah maju berikutnya dapat menutup prostitusi Kremil, Bangunsari dan Sememi. Meskipun sampai saat ini sejumlah transaksi seks tetap berlangsung.      
            Menutup prostitusi lokalisasi memiliki karakteristik berbeda satu dengan yang lain. Fenomena berbeda perlu pemecahan berbeda pula. Harus melihat terlebih ikatan ekonomi dengan warga sekitar. Memang banyak penutup lokalisasi dilakukan. Namun, penutupannya cenderung secara simbolis tanpa ada resolusinya. Tentu, penutupan ini bersifat metaforis, tidak memberikan manfaat apapun kecuali pengeluaran dana besar. Sementara aktifitas lokalisasinya tetap berjalan. 
            Sejumlah penutupan, misalnya lokalisasi Saritem di Bandung, April 2007, pada akhirnya aktivitas transaksi seksual tetap berlansung. Penutup lokalisasi di Sumber loh atau Padang Bulan di Banyuwangi, tetap buka setelah satu bulan ditutup resmi. Eks lokalisasi Besini, Puger, Jember yang ditutup 2007, tetap buka  praktik illegal itu. Kasus penutupan dua lokalisasi tersebesar di Kediri, tahun 1998, yakni Semampir dan Gedang Sewu serta tujuh lokalisasi kecil lainnya, tetap berlangsung hingga kini. Lokalisasi Teratai Putih, Palembang. Plang di pintu masuk sudah menyatakan resmi ditutup, tapi aktivitas transaksi nya tetap berlansung. Di kabupaten Berau, Kalimantan Utara, dilakukan penutupan lokalisasi km 5 yang dikenal dengan sebutan Teluk Bayur. Semua pekerja seks dikembalikan ke Jawa Timur dengan mendapat kompensasi 5 juta. Kini, mereka mendirikan lokalisasi baru lagi di km 15. Berbeda dengan komplek lokaliasi Teleju merupakan singkatan dari Teluk Lembu Ujung, Pekanbaru, Riau. Pemerintah berhasil dengan menutup lokalisasi ini disertai pembangunan rusunwana lima lantai. Penanganan kongkret dilakukan pemerintah telah berhasil. Tapi, dampak yang tidak diduga berdirinya tempat prostitusi baru berkolaborasi dengan tempat hiburan.

Tahap pre-aksi
            Segala upaya pemerintah kota membuat lokalisasi Dolly sepi, telah dilakukan. Misalnya, tidak ada penambahan wisma baru, menutup aktifitas pada hari besar keagamaan, razia, tidak ada pembahan PSK baru, tidak ada anak dibawah umur, maupun menutup wisma bermasalah, memangasang CCTV, pemberitaan issue AIDS. Aksi baru lainnya dilakukan pemerintah kota dengan memberlakukan  pelarangan masuk bukan warga Girilaya sekitar. Mereka dicegat di depan pintu masuk Girilaya-Banyuurip. Tapi akhirnya gagal, karena sejumlah pekerja lokalisasi mendatangi satpol PP itu. 
            Pemasangan 6 CCTV di setiap perempatan dan diujung gang Dolly, sebagai shock terapi bagi konsumen seksual sangat berguna. Meski, bagi pekerja di Dolly, hal itu hanya dianggap sekedar menakut-nakuti. Hanya saja, sejumlah aksi pemerintah dilanggar sendiri oleh petugas nakal. Aturan tidak boleh menerima pekerja seks baru, ternyata dapat disiasati dengan memberi uang pelicin, sehingga wisma tetap bisa memasukkan pekerja seks baru. Dari sekian cara yang dilakukan, paling efektif membuat Dolly sepi adalah berita tentang AIDS. Setiap kali ada berita tentang penderita AIDS, keesokan harinya Dolly terlihat sepi. 
            Sebenarnya, penyebab sepinya Dolly telah dirasakan pengelola wisma. Tahun 1990-1997, adalah masa kejayaan Dolly. Setiap wisma memperoleh 100  lebih transaksi kamar. Satu kamar waktu itu 75 ribu. Sekarang, rata-rata setiap wisma sangat berat mendapatkan 40-50 kamar, meski weekend
            Apa yang membuat sepi Dolly? Banyak mucikari akhinrya menyadari bahwa sepinya Dolly disebabkan karena persoalan internal di Dolly sendiri. Yang pertama, Beberapa kali kejadian pemukulan konsumen seksual yang dikeroyok mucikari pekerja. membuat pengunjung jera datang ke Dolly. Padahal, sebetulanya disebabkan tindakan ingkar pekerja seks. Ini dipahami sejumlah pengelola di Dolly, tapi keadaan sudah terlambat. 
            Kedua, Menurunnya transaksi tamu yang datang ke Dolly, juga karena perlakukan pekerja seks tidak simpatik dalam melayani tamu. Hampir 80% pekerja seks di Dolly memiliki pacar (laki-laki piaraan), pacar sangat mengganggu palayanan, sekaligus pendapatan wisma. Mereka meninggalkan wisma demi pacarnya. Melayani tamu tapi masih terima sambungan telpon pacarnya. 
            Ketiga, Nilai jual penjaja seks adalah kebaruan pekerja seks, umur belia, kecantikan, keindahan fisik, warna kulit, asal daerah, attitude menjadi perspektif nilai konsumen seksual. Pekerja seks di Dolly tidak lagi memiliki itu. Mereka memiliki kelebihan fisik, tentu meninggalkan dolly migrasi ke prostitusi konsep pertokoan di Surabaya dengan pendapatan lebih besar. Ataupun, menjadi call girl berbekal ponsel guna meningkatkan perolehan. Sehingga yang  tersisa penjaja seks Dolly secara kualitas sudah menurun. Mereka pinda ke tempat Darmo park, yang sebenarnya sebagain berasal dari Dolly. Yang semula sekali kencan dihargai 100-300 ribu di pertokoan Kedungdoro menjadi 550 ribu. Inilah akhirnya Dolly ditinggalkan bagi pekerja seks yang memiliki kelebihan fisik dan estetikasi wajah.
            Keempat, mucikarinya tidak bisa bersatu, mereka bersaing untuk meramaikan jaringan wisma. Kurangnya kekompakan empat kelompok besar membuat persaingan tidak sehat. Saling melaporkan ketika berkaitan dengan persoalan hukum. Tidak ada lagi orang dituakan di lokalisasi Dolly, seperti almarhum Dirja, Ali Kasim dan Margono yang mendamaikan pertengkaran antar pemilik wisma dimassa lalu. 

Membuat Dolly bangkrut
            Cara membuat Dolly tutup, tidak sepenuhnya dilakukan dengan menutup paksa Dolly. Ikatan ekomoni warga sekitar dengan wisma di Dolly masih sangat kuat. Masyarakat sekitarnya masih menerima keberadaan prostitusi. Ikatan inilah yang harus diputus. Cara itu dapat dilakukan, (1) Memutus mata rantai mucikari pekerja yang membawa pekerja seks dari daerahnya harus ditutup aksesnya.          Mereka sangat aktif melakukan ini karena mendapatkan 1 jt bila mengantarkan satu pekerja seks. Pekerja seks di tempat lokalisasi maupun salon di daerah dirotasi ke Dolly. Mata rantai rotasi prostitusi antar lokalisasi inilah yang harus diputus  Sistem pelacuran di Indonesia menggunakan rotasi. Setiap pekerja seks agar tidak membosankan konsumen seksual, mereka akan berpindah dari lokalisasi satu ke lokalisasi lainnya. Sepinya wisma pelacuran itu ketika tidak ada pekerja seks baru, maka rotasi pekerja seks diperlukan.
            Apalagi Jumlah lokasasi prostitusi sudah mencapai sekitar 55 lebih tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Belum termasuk prostitusi berafiliasi dengan tempat hiburan yang tak terhitung jumlah, memudahkan mereka melakukan rotasi.
 (2) Aturan tidak boleh menambah pekerja seks baru, ternyata dilanggar sendiri oleh petugas nakal. Karena mereka mendapat 500 ribu sampai 1 juta untuk memasukkan PSK baru. Sebab itu, perlu memindah petugas nakal itu. (3) Cara efesien mengurangi pengujung di Dolly adalah mencacat siapa pengunjungnya.
            Cara ini dapat dilakukan setelah konsumen seksual melakukan transaksi seks meninggalkan KTP di wisma. Bila metode itu tidak diterima wisma, maka cara berikutnya, menempatan petugas diujung gang Girilaya untuk mencatat KTP pengguna jasa seks dan memeberi pertanyaan singkat. Data siapa konsumen seks yang telah melakukan transaksi dapat dilihat dari CCTV, lalu dicocokkan ketika dia meninggalkan lokasi. Jadi sasaran yang dituju tidak hanya pekerja seks mupun mucikarinya, tapi juga pengunjungnya.
            Cara ini dijamin Dolly jadi sangat sepi. (4) Memberi kompensasi pekerjaan terhadap mucikari pekerja sekitar 200 orang. (5) memberi kompensasi tempat bagi pedagang  sekitar lokalisasi untuk berjualan di sentra PKL yang telah dibangun pemkot. (6) Antisipasi kemana perginya pekerja seks, pengelola wisma dan mucikari pekerja pasca penutupan. Biasanya pekerja seks yang memiliki kelebihan fisik, akan berpindah Kompleks prostitusi di pertokoan Kedungdoro, Darmo park, ruko jalan Tunjungan maupun Embong Malang, atau HR Muhammad. Untuk pekerja seks dengan fisik standar akan berpindah di wilayah timur Indonesia. 
 (7) membeli rumah pemilik wisma, tapi tidak perlu memberi dana kompensasi penutupan. (8) merobohkan wisma untuk pelebaran jalan ataupun untuk fasilitas lain. Cara paling tepat meniadakan bangunan wisma dengan membeli rumah. Seperti halnya pernah dilakukan penutupan lokalisasi Lamongan oleh Bupati Farid maupun Kramat Tunggak. Cara membeli wisma dan dirobohkan lebih efektif, Namun, memerlukan dana besar. Belum lagi dana kompensasi kepada germo, PSK dan pekerja terkait.
            Kenapa ini dilakukan? Sebab, ketika tidak dibeli. Maka pemilik wisma di dolly akan mengalihkan usahanya menjadi bentuk indekos. Pada saat Wisma Bangkok bangkrut, pemilik wisma menjadikan tempat kos. Tentu saja, konsep ini rawan disalahgunakan untuk tempat tinggal perempuan pekerja seks laten (terselubung). Bisa juga, berubah konsep seperti lokalisasi gang Sadar Baturraden, Banyumas maupun Tretes, Pasuruan. Tempat kos hanya digunakan untuk transaksi, sedangkan tempat kencannya di hotel terdekat.
            Cara ini diharap meredam gejolak dibanding penutupan paksa, memasang papan bertulisan penutupan, pembacaan penutupan, pengerahan petugas keamanan dalam jumlah banyak, tentu dana yang dikeluarkan juga banyak. Padahal belum tentu memberi hasil maksimal.

Dr. Yuyung Abdi
Peneliti prostitusi Indonesia
Ditulis Sehari sebelum penutupan 18 Juni 2014

Post a Comment

0 Comments