Yuyung Abdi: Pewarta Foto, Penulis Buku Fotografi & Penyandang Gelar Doktor


Sebagai pewarta foto, Yuyung Abdi sudah termasuk senior, bahkan namanya sudah tak asing lagi di kalangan fotografer Indonesia, utamanya yang menggeluti fotografi jurnalistik. Hingga kini telah lebih 24 tahun ia berkarya di harian Jawa Pos. Selanjutnya ia mendedikasikan dirinya sebagai dosen di beberapa Universitas.
            Selain banyak membuahkan karya foto jurnalistik, ia kerap menjadi juri lomba foto, menjadi pembicara di berbagai seminar atau workshop fotografi, bahkan telah membuahkan beberapa buku fotografi seperti Lensa Manusia (2004), Sex for Sale: Potret Faktual Prostitusi 27 Kota di Indonesia (2007), Surabaya Cantik (2010), Photography from My Eyes (2012), Traveling Photography (2013) dan Prostitusi: Kisah 60 Daerah di Indonesia (2019). Bee Jay Bakau Resort: Mengubah Sampah Jadi Emas (2019)
            Yang membuatnya kian istimewa, Yuyung tak hanya mumpuni di level praktis jurnalisme foto, melainkan juga di tataran akademisnya. 

Memilih Fotografi 
            Memang, arek suroboyo ini adalah lulusan Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga Surabaya. Namun perlu diketahui bahwa sejak belia, ia sudah akrab dengan kamera gara-gara sang ayah punya kegemaran memotret. Ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama, Yuyung telah diperbolehkan oleh ayahnya untuk mengoperasikan kamera. 
Ternyata, ia lebih berminat di bidang fotografi, dan minat itu sulit dibendung. “Saya memutuskan untuk tidak bekerja di bidang kimia sesuai dengan jurusan saya,” ujarnya, dan sejak 1995 ia berkarir di media cetak yang berkantor pusat di Surabaya tersebut. 
            Bekerja di koran harian tentulah bergelut dengan jadwal yang amat padat, sementara Yuyung juga masih harus menjalani studi pascasarjananya (S2). Ia mengaku merasa kesulitan dalam mengatur waktu antara bekerja dan belajar. “ Tentu sangat menguras energi... Kuliah butuh waktu membaca, sedangkan kerja butuh waktu dalam perjalanan dan skill,” katanya sembari menambahkan di dalam tas kameranya sering ia selipkan buku-buku kuliah, yang dibacanya di sela-sela sesi pemotretan. 
            Jenjang studi S2 pastinya yang diambil pastinya bukan studi yang berkaitan dengan ilmu kimia, tapi yang berhubungan dengan ilmu komunikasi. Jadi, lebih terkait dengan dunia kerjanya sebagai pewarta foto. 

Menempuh Jenjang S2 & S3 
            Perkuliahan S2 yang dijalani Yuyung saat itu berlangsung sore hingga malam hari, padahal ia juga harus berada di kantor pada malam hari untuk urusan editorial di korannya. Kadang-kadang ia terpaksa minta izin pada dosennya untuk lebih awal meninggalkan kuliah malam karena ada urusan kantor, belum lagi jika ada tugas liputan di sore atau malam hari. Jika jadwal bentrok, salah satu memang terkadang harus dikorbankan. 
            Seusai tenggat sekitar pukul 22.00, terkadang ia masih di kantor untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah hingga pukul tiga dinihari. Sampai-sampai sakit lambung akut pernah menderanya sehingga perlu perawatan berbulan-bulan. Lebih-lebih ketika mulai menggarap tesis, Yuyung merasa kian sulit mengatur waktu antara penelitian, penulisan, pencarian referensi dan pekerjaan kantor. 
Pria berzodiak Leo ini lantas menjelaskan, kesulitan mengatur waktu itu dikarenakan penelitiannya bersifat fenomenologi dan fotografi. “Saya harus mengikuti subyek penelitian saya dan saya abadikan lewat foto tentang pengalaman kehidupannya. Belum lagi sifat penelitian saya ini bukan tergolong semiotik, tapi cenderung sebagai reproduksi tanda, di mana belum ada referensi mengenai penelitian ini secara masif,” paparnya. 
            Gelar master akhirnya diraih, dan Yuyung pun kala itu masih punya angan untuk menempuh jenjang S3. Mimpinya, ia ingin membuat terobosan dalam riset dengan foto dan membuat teori tentang foto dalam penelitian. “Saya ingin melakukan penelitian yang tidak sembarang orang bisa melakukannya,” tutur lelaki kelahiran ibukota Jawa Timur tersebut seraya menambahkan bahwa untuk penggarapan tesis S2- nya, ia menggunakan story photo naratif dengan mengikuti satu subyek penelitian selama sembilan bulan. 
            Sedangkan untuk disertasinya, ia juga menggunakan story photo naratif mengikuti lima subyek penelitian dan story photo deskriptif 26 tempat prostitusi Indonesia selama tiga tahun delapan bulan. Untuk jenjang S2, Yuyung meraih gelar master media komunikasi, dan untuk S3 adalah doktor sosiologi dengan bidang fenomenologi foto. 

Fotografi Kian Bergairah 
            Sebagai pewarta foto yang menyandang gelar doktor, pria kelahiran 23 Juli ini kini tidak sekadar sebagai praktisi fotografi, tapi juga sebagai seorang dosen. Dia mengampu mata kuliah fotografi di almamaternya, Universitas Airlangga. Kiranya tak banyak pewarta foto yang seperti dirinya, yang mampu meraih gelar doktor sementara pekerjaan dan karirnya tetap berjalan lancar. Barangkali saja dia menjadi satu-satunya di Indonesia. 
            Menilik perkembangan fotografi, Yuyung melihat bahwa kegiatan potret-memotret dulu tidaklah seramai sekarang. Hampir setiap orang kini akrab dengan kamera, dan cara pengoperasiannya pun kian mudah. Dikatakannya, “Hampir semua orang bisa memotret” sehingga banyak orang menjadi hebat dalam waktu yang relatif singkat.
            Di sisi lain, muncul persaingan yang kian ketat sekaligus melebar ke semua genre. Malahan muncul pula peluang yang terbuka lebar bagi para penghobi fotografi untuk melakukan eksplorasi visual. Tentunya semua itu menyenangkan karena membuat fotografi semakin bergairah. “Ini yang membuat fotografi menyemarakkan dunia visual,” pungkas Yuyung. 

(Farid Wahdiono, penulis freelance tinggal di Yogyakarta)

Post a Comment

0 Comments