Peluang dan Tantangan Industri Fotografi di Era Disrupsi 4.0 (2)

Dulu tidak ada ketakutan, bahwa hape bisa menggantikan kamera. Itu angan-angan diluar jangkauan. Bagaimana kamera yang besar itu bisa terintegrasi (built-in) dalam ponsel. Tapi sekarang kenyataan itu tidak bisa dibantah. Hampir setiap orang menggunakan fasilitas ponsel untuk memotret dokumen maupun aktifitas. Walaupun pada keadaan tertentu, HP tidak bisa menggantikan DRSLR/mirrorless. Lantas masa depan fotografi bagaimana? Apakah seorang tidak perlu lagi belajar tentang teknis fotografi? Revolusi visual memang telah terjadi ketika teknologi digital berkembang pesat. Foto cepat tersebar melalui sosial media, tidak tahu lagi siapa yang pertama kali membuatnya. Penyebarnya telah menghilangkan siapa yang membuat. Tidak ada lagi kesulitan orang memotret seperti jaman kamera analog. Hal teknis sudah diambil alih teknologi. Kamera yang terintegrasi dalam smarphonemembuat semua orang memilki kamera dan mudah menggunakannya. Kehadiran hape, membuat kamera point and shot(poket) tersisi dan mengalami penurunan penggunanya. 

Bentuk hape memang sangat ringkas dan praktis. Ini tak lain, lantaran ukuran ponsel segemgam tangan. Mudah dibawah, tidak lagi dikalungkan seperti kamera yang memberatkan pembawa. Tidak perlu lagi membawa tas yang bersi berbagai macam lensa. Apalagi kadang kelupaan saat menaruh di perjalanan. Memang semakin ringkas peralatan foto itu memudahkan mobilitas. Selama ini memang harus membawa banyak peralatan foto untuk mendukung kebutuhan dan kualitas.



Ketika saya memotret di daerah pelacuran. Sewaktu saya mengeluarkan kamera, maka semua orang akan reaktif. Sebab itu, saya memasukkannya dalam hidden camera padabag. Namun, ketika saya membawa hape, mereka tidak terlalu mempermasalahkannya. Waluapun saya memotret dengan hape dengan cara seperti menelpon. Itu lah kelebihan hape. 

Memang pada akhirnya pekerjaan profesi fotografer jadi tereduksi perannya, saat kemunculan kamera hape pada wilayah tertentu. Dalam fotojurnalistik, rana spot news (kejadian seketika) sebagian besar sudah diambil alih citizen journalism. Ketika terjadi peristiwa, maka  orang terdekat dan membawa kamera lah yang dapat mengabadikan peristiwa itu. Kecuali peristiwa yang memilki kejadian dalam kurang waktu lebih lama. 

Memotret kecepatan tinggi pada suasana minim cahaya membuat kamera hape belum bisa menjangkau. Memotret malam pada hape Huawei P30, bukan kemampuan lensa, sensor maupun kameranya ketika memotret malam jadi kelihatan terang, namun lantaran kemampuan prosesornya. Tidak riil hasil kemampuan sensor kamera. Begitu juga tidak akan mampu memotret kendaraan bergerak di malam hari. Itu lah kelemahan hape. 

Kecepatan menyalakan hape (posisi on) dari keadaan mati (off) masih jedah lama. Sewaktu posisi standby, hape dalam keadaan “on”, ketika akan mengabadikan momen cepat, seorang harus memilih fitur atau short cutkamera sebelum momotret, jelas ini butuh waktu walaupun sepersekian detik. Berbeda dengan kamera ketika dinyatakan shutter lagnya lebih cepat. Hape sangat lambat untuk merekam moment secara cepat. 


Sebenarnya HP memiliki resolusi tinggi (12 Mp), belum bisa menyaingi resolusi pada kamera (6 Mp). Ini disebabkan ukuran pixel pada hape terlalu kecil dibanding dengan kamera. Kualitas kamera hape memang belum bisa melampaui kamera DSLR maupun Mirrorless. Andaikata sudah bisa mengungguli, maka fotografer bukan lagi pekerjaan professional. Semua orang bisa memotret. Pemotretan pernikahan pun tidak perlu lagi membayar mahal, hanya sewa lighting pihak keluarga sudah bisa melakukan. 

Teknologi memang bisa capai, tetapi tetap saja kemampuan visual seseorang ditentukan kapabilatasnya menguasai lighting, arah cahaya, temperature cahaya. Kemampuan visual memahami angle (sudut pengambilan), pengaruh focal lens, format, porposi, perspektif, warna cahaya, bentuk geometris. Ini lah diasah lewat pengalaman dan pengetahuan praktis.  

Hasil foto digunakan untuk apa? Sehingga bisa menjawab fungsi kamera hape dan kamera DSLR/mirrorless. Kebutuhan untuk memotret untuk sosial media berbeda foto iklan komersial. Untuk memotret interior hotel, weddingsportmaupun produk iklan.
Untuk memotret weddingsaja, fotografer menggunakan kamera mirrorless dikatakan kamera mainan. Mindsetpengantin dan orang belum bisa menggantikan prestigealat apa yang digunakan untuk memotret wedding tersebut. 

Lantas, bagaimana profesi fotografer, dimana semua orang bisa memotret dan semua orang bisa menyebarkannya dengan mudah hasil karya orang lain, tanpa mendapatkan royalty. Jawabnya harus ada aturan hak cipta yang jelas dikeluarkan pemerintah tentang foto dan konsekuensinya. Sebab pemotret memiliki hak cipta langsung terhadap hasil yang difotonya, meskipun tidak perlu didaftarkan HAKI. Tapi, semua orang bisa dengan mudah memotret dan juga menyebarkannya. Lantaran foto yang bulkydan yang berkualitas bercampur baur, orang tidak tahu lagi batasnya. Dianggap semua foto gampang untuk diambil sebagaimana orang mudah meminta foto ke orang lain. Maka, fotografer pendapatannya berada di bawah institusi,  tidak jadi persoalan. Begitu juga,  traveler photo/video dimana jumlahfollowernya banyak, ia memperoleh pendapatan dari channel You tube maupun endorse. 

Post a Comment

0 Comments