Tip memotret bangunan cagar budaya (Heritage)




Setelah saya bertemu dengan Kasubag Bu Rita Susanti, Disparpora (Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga) Kota Madiun. di acara Lanud Iswayudi, Magetan. Lantas saya diundang jadi pembicara oleh Dinas Pariwisata kota Madiun, Jawa Timur dalam workshop bertema “warisan budaya dalam symbol visual” di The Sun Hotel Madiun, 6 Desember 2018, lalu. Workshop ini sekaligus sebagai bekal untuk mengikuti lomba foto. Diikuti 180 peserta SMP, SMA dan mahasiswa. Sebelum memotret peserta, saya ajak memahami pemetaan maupun identifikasi terhadap cagar budaya yang ada di Madiun. Yang perlu dicermati, foto bangunan cagar budaya bagus itu sangat tergantung dari bentuk arsitektur bangunan cagar budaya itu sendiri. 


Madiun memiliki warisan budaya dalam bentuk bangunan cagar budaya. Terdapat sekitar 21 bangunan heritage. Restorasi, perawatan bagunan bersejarah mulai memperolah perhatian pemerintah kota. Satu persatu telah diperbaiki. Memang, kita kekurangan dokumentasi foto bangunan cagar budaya saat awal dibangun, sehingga bagaimana bentuk semua bangunan ini tidak terdokumentasi. 

Cara mengundang orang untuk mengunjungi cagar budaya, memang harus mempercantik bangunan heritageagar menarik. Madiun selayaknya punya ikon untuk diliat dan jadi tempat persinggahan sebagai wisata budaya. Ini bisa diwujudkan apabila gedung cagar budaya, terawat dengan baik. 
Awalnya tercetus ide lomba fotografi lebih ke travelling di kota Madiun, meliputi kuliner, arsitektur dan budaya. Dikemas dengan tema Charismatic city’s heritage. Berelasi dengan kearifan lokal kota Madiun. 

Workshop dilaksanakan tanggal 6 Desember 2018, sedangkan 8 Desember 2018 penjurian hasil karya foto para peserta lomba. Siang hari jam 12, tanggal 8 Desember 2018 dilakukan penjurian di I-Club Madiun. Dengan Juri Dr. Yuyung Abdi, Bagus Rendra (Pajio) dan WS. Hendro. 


Sebelum melakukan pengambilan gambar, maka peserta workshop juga diajak memahami apa makna heritage. Agar mengetahui batasan foto yang dilombakan. Tema warisan budaya dalam symbol visual ini lebih bervariasi genre photography nya. Tidak tertuju pada ranah bangunan architecture saja.

Dalam lomba ini memiliki karakteristik fotonya bisa mengarah pada keindahan sekaligus documentary. Wilayah paradigma pictorialis dan informasional (substantive) bisa jadi satu kesatuan. Paradigma piktorialis, misalnya pada waktu pengambilan foto di saat siang hari, maka foto bangunan cagar budaya terkesan biasa secara fotografis. Semua orang bisa melakukan. Berbeda pada waktu pagi atau sore. Jatuhnya cahaya membentuk dimensi akan memperkuat tampilan ikon heritage. Begitu juga, waktu terbaik saat pengambilan senja maupun fajar. Pada pengambilan foto senja hari, maka warna langit cenderung memiliki gradasi warm color maupun blue color (pada blue hour) setelahnya. Ini bakal menarik bila bangunan tersebut disertai penerangan lampu incendesence. Sebaliknya, jika pengambilan terlalu malam, menjadikan langit gelap. 

Sebab itu, peserta  banyak yang mengambil saat sore hari, senja. Lantaran momen pengambilan itu menentukan kualitas cahaya, karakteristik cahaya maupun dimensi.
Terpenting dalam mengambil gambar bangunan warisan budaya, tidak melupakan warna, bentuk geometris, pola, dimensi visual dan cahaya. Pilihan sudut pengambilan, yakni high angle, eye level maupun low angle, harus ditentukan. Pemotret bangunan juga perlu memperhatikan perspektif. Bagunan yang sebenarnya lurus, harus garis lurus. Lantaran pengaruh lensa wide, jadi hasil foto jadi terdistorsi. Tampak melengkung. Menggunakan lensa wide untuk memotret bangunan dari bawah, maka akan  memiliki efek seolah membumbung melebar ke bawah. 

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah symbol. Symbol-simbol itu begitu penting dalam menampilkan warisan budaya. Symbol-symbol ini penting dipahami terlebih dahulu sebelum memotret. Soalnya simbol terikat dengan konteks. Misalnya, saat memotret cagar budaya klenteng, ada perempuan mengenakan jilbab hadir di sana. Maka penggabungan unsur perempuan berjilbab dan bangunan klenteng sebagai symbol antagonistic akan lebih bermakna. Foto ini jadi menarik. Dalam foto warisan budaya pada lomba ini, diperbolehkan ada kehadiran unsur manusia di bangunan heritage. Menggabungkan unsur manusia dengan bangunan cagar budaya, tapi manusianya tidak boleh terlihat dominan. 



Pilihan Ikonitas cagar budaya sangat perlu. Sebab ikon gedungnya bagus, memperkuat fotonya jadi bagus. Proporsi dan penekanan elemen juga diperlukan dalam lomba ini. 
Jumlah cagar budaya yang banyak terdapat di kota Madiun, butuh untuk diabadikan. Berpotensi untuk wisata sejarah. Saya pun berharap ada komunitas pelajar maupun umum yang mencintai cagar budaya madiun bisa mengabadikan. Sedangkan pemerintah kotanya bisa memberi perhatikan sekaligus perawatan dan restorasi. 

Daftar Cagar Budaya Kota Madiun
Balai Kota Madiun Jalan Pahlawan
Rumah Keluarga Andi Wibisono Jalan Kutai (Rokok)
Klenteng Hwie Ing Kiong Jalan Cokroaminoto
Menara Air Sleko Jalan Kapuas
Komplek Pabrik Gula Rejoagung Jalan Yos Sudarso 
Komplek Rumah Dinas Pabrik Gula Rejoagung Jalan Yos Sudarso
Gereja Prostestan Indonesia Bagian Barat (Gamalie) Jalan jawa
Kompleks Bakorwil Jalan Pahlawan
Kompleks Gereja Santo Cornelius Jalan Pahlawan
Kompleks Santo Bernadus Jalan Ahmad Yani
Rumah Kapiten China, Pojok Alun Alun Selatan Barat
Stasiun Madiun Jalan Kompol Sunaryo
Masjid & Makam Kuncen Jalan Retno Dumilah
Masjid & Makam Kuno Taman, Jalan Asahan

Post a Comment

0 Comments