Wisata di Negeri Tirai Bambu (4)



Wisata di Negeri Tirai Bambu (4)
Dr. Yuyung Abdi


High Speed Train China
Tiba di west entrance kereta api cepat Beijingnan South Railway Station, Beijing pukul 6.30, tanggal 3 Oktober 2019. Stasiun kereta api ini memang terasa seperti bandara. Ada security check, layaknya di bandara. Pengecekan paspor dan barang bawaan. Namun, dengan pengecekan ini lah menyebabkan antrian panjang di luar pintu masuk, apalagi hanya dibuka beberapa pemeriksaan, ditambah libur seminggu hari kemerdekan di China.



Lolos pemeriksaan penumpang, selanjutnya bisa memilih duduk di ruang tunggu maupun di resto. Di tempat ini ada layanan porter, namun berbeda dengan porter di Indonesia. Satu porter menangani barang satu orang, biaya sekitar 50 ribu. Kalau di Beijingnan, bawang bawaan dibawa secara rombongan dengan dua porter. Koper kecil dengan tarif  40 yuan dan yang besar 60 yuan. ini biaya setiap koper. Total ada sekitar 21 koper besar. Koper sebanyak itu dibawa dua orang poter, satu orang yang mengatur. Total income sekitar 1200 yuan (2,4 juta). Sayangnya, koper-koper ini hanya ditaruh saja diatas, tanpa dicocokan nomer kursi keretanya. Orang tua, jadi kerepotan memindah lagi kopernya.
 
Masih ada sisa waktu, kami  bisa meliat keadaan sekitar staiun. Ada papan informasi digital yang memberi petujuk tujuan, (Train Schedules) waktu kedatangan dan keberangkatan (Destination), nomer kereta, platformserta gate (pintu masuk)

Sistem perkeretaapian di China menggunakan ukuran rel lebih lebar dibanding Indonesia, yakni 1,067 m. Sedangkan di China ukurun lebar rel 1,435 m. High Speed Train ini terbagi dalam kelas eksekutif, bisnis dan ekonomi. Jumlah deret kursi kelas ekonomi  3 dan 2. Kelas bisnis 2 dan 2. Sedangkan Eksekuti 1 dan 2. Tempat duduknya juga tidak begitu lebar. Barang bisa diletakkan di rak bagian atas. Untuk fasilitas toilet, saya tidak menggunakan, karena sama dengan kebanyakan toilet umum di China…hihihi. Di lihat dari atas google map, railway station Beijingnan ini berbentuk oval. Sedangkan bila dirasakan lewat kendaraan, terlihat seperti memutar satu arah, searah putaran jarum jam.




Railway station
Perjalanan kereta api cepat dari Beijing menuju Hangzhou ditempuh 4,5 jam perjalanan, berangkat pukul 08.00-12.30 dengan jarak tempuh sekitar 1.150 km. Rata-rata kecepatannya 300 km/jam. Di titik titik tertentu turun kecepatannya. Kadang 305 km/jam, atau 285 km/jam. Kecepatan high speed train ini terlihat di papan digital depan tempat duduk. Pada papan digital juga memberi informasi tentang temperatur, stasiun berikutnya dan kecepatan. Seperti kereta di Indonesia, ada pramusaji yang berjualan berbagai makanan ringan, berat dan buah-buahan. Saya tertarik dengan anggur hijau. Memang terkenal paling enak. Anggur hijau dijual dalam satu kotak (box) ukuran besar dan sedang. Saya memilih ukuran sedang sekitar 20 yuan, kalau tidak salah, atau 40 ribu rupiah. Nanti di supermarket Suzhou harga jauh lebih murah. Berat 1 kg hanya sekitar 20 ribu rupiah. Di Indonesia bisa 100 ribu lebih. Anggur hijau ini jauh lebih manis dibanding dengan anggur merah. 




High speed train milik China dibanding dengan high speed train TGV sewaktu kami melakukan perjalanan dari Swiss-Prancis, hampir sama. Halus, tidak ada goncangan. Tenang dan nyaman. Ada fasilitas colokan listrik. Juga dilengkapi meja lipat. Kaca di train China lebih bening, sehingga bisa memotret selama perjalanan. Semakin meninggal kota Beijing pemandangan semula didominasi industry, berubah semakin tampak kehijauan hingga menuju Hangzhou. 

Tiba di railway station di Hangzhoudong sekitar 12.35 waktu setempat. Ketika di stasiun ini, kesulitan menemukan jalan keluar menuju lobi kedatangan. Dari lantai bawah menuju lantai atas. Lantaran ada pergantian tour leader (TL) antar kota. Kita baru bertemu di depan lobi setelah ada petugas yang membantu menolong beberapa peserta tour yang sudah rentah yang tidak bisa membawa barang bawaannya. 

West Lake Hangzhou
Usai semua selesai, rombongan dipimpin TL baru menuju bis yang akan membawa ke restaurant sekaligus menuju ke Danau Hangzhou. Dulu saya sempat memamerkan Danau Sarangan kepada dokter asal Cun Kwok, bernama Xie Fang. Apa jawabnya, “Ini belum bagus. Nanti kalau kamu ke West Lake, Xihu, Hangzhou, akan aku tunjukan Danau yang indah.” Kebetulan pas Xie Fang berada di kota Hangzhou. Akhirnya saya bertemu keluarganya pada saat tur ini. 






Sampai di West Lake, Hangzhou, pukul 15.19. Masih berjalan kaki sekitar 20 menit, menuju ke boat yang akan mengantarkan kita berkeliling danau. Pukul 15.42 perahu mulai bergerak meninggalkan dermaga. Danau ini begitu luas dan sangat tenang tenang gelombang airnya. Dilalui perahu tradisional, kapal pesiar, maupun kapal khas china. Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan indah tentang latar belakang kota Hanzhou dan pepohonan yang tertata rapi. Sepanjang pinggir danau digunakan orang untuk berjalan. Kota Hanzhou terkenal dengan pemandangan alamnya. West Lake ini terdaftar sebagai tempat World Cultural Heritage tahun 2011. Setelah itu perahu kembali lagi bersandar pukul 16.26. Tidak ada waktu, ketika saya ingin menikmati senja dan teatrikal yang akan berlangsung di pinggir danau. Waktu telah terjadwal harus berkunjung di tempat mandatory shop. Kali ini, di tempat produksi teh. 


Xie Fang sudah saya kabari, kalau saya berada di Hangzhou. Ia bersama anak dan istri anaknya menjemput saya di tempat parkir danau. Namun, ditolak oleh TL, karena harus mengikuti kunjungan di toko teh, sebagai tempat wajib dikunjungi peserta tur. Usai acara ini, lantas Xie Fan dan keluarga membawa saya dan istri keliling kota Hangzhou dan makan malam dengan mobil BMW terbarunya. Xie Fang ini dokter yang pernah menyembuhkan penyakit asam lambung saya. Ketika sejumlah dokter menyakini bahwa saya kena vertigo. Namun, Xie Fang bilang bahwa kamu terkena asam lambun, lantas vertigo dan berakibat tidak bisa bangun. Jadi yang disembuhkan asam lambungnya dulu. Enam bulan saya dirawat akhirnya sembuh. 

Bersama anak, mama, menantu dan cucu yang telah menunggu lama, Kami diundang makan malam di restaurant di kawasan kota. Restauran ini adalah restaurant vegetarian. Awalnya, xie fang bilang kepada anaknya, Can Wei. Saya tidak mau makan yang ada daging. Makanya, anaknya bingung cari makanan tanpa daging. Padahal sebenarnya, yang saya maksud adalah makanan tanpa pork atau minyaknya. Tapi dipilihkan makanan vegetarian juga tidak masalah. Xie Fang sempat diomelin anaknya, “Mama bilang saja dong, makanan halal. Jadi tidak bingung cari makanannya.” Kami pun tertawa mendengarkannya. Anak laki Xie Fang lulusan IT Inggris, sehingga bahasa Inggrisnya enak didengar. 

Di hanzhou sudah menggunakan 5G sedangkan di Indonesia masih 4G. Cara pesan menu restoran menggunakan aplikasi, begitu pula pembayarannya. 
Ada banyak makanan yang disajikan. Semua olahan dari jamur, tofu, sup, sayuran. Beberapa makanan chinese food traditonal hanya dua yang mirip Indonesia. Saya bisa menikmati apapun, lantaran banyak sekali berkunjung di sejumlah daerah. Sedangkan istri saya bingung memilih makanan. Tak bisa mencoba hal baru. Diantara makanan memang tidak familiar, tapi belum tentu tidak enak. Hanya persoalan kebiasaannya saja.

Ketika istri saya memesan orange juice dingin. Mereka saling bertatap mata. Saya tahu bahwa kebiasaan habis makan, mesti minum hangat. Apalagi keluarga ini penganut hidup sehat. Can Wei, 32 anak Xie Fang bercerita kepada kami, “Dulu mama pernah menempeleng aku saat kecil, gara-gara minum air dingin. Jadi kebiasaan setelah makan di sini, minumnya selalu teh hangat, air hangat. Ini terjadi saat makan di restaurant chinese, rombongan grup saya. Setiap kali makan selalu disediakan teh panas atau air panas.  Rupanya salah seorang rombongan bernama tante Helena habis makan, mau minum obat. Dia minta air dalam bahasa koi kepada pelayan. Pelayannya, membawakan air panas kepadanya. Dia menolak, yang di maui adalah air buat nimum obat. Karena bahasa Mandarin tidak dipahami. Akhirnya, dibawakan air putih lagi yang tetap panas. Sampai tiga kali. Tante Helena memutuskan gak jadi minum air, tapi kuah sayur untuk menelan obatnya. Hahahaha…semua pada tertawa. 




Selepas makan malam, kami diajak berkeliling di melihat perkembangan kota Hangzhou. Tingkatan kota di China. Pertama Beijing (hige city), Kedua Shanghai (kota) dan Ketiga, Hangzhou (taman & danau, kota hijau). Wei Can menunjukkan face detection lewat CCTV dipenjuru jalan. Berfungsi sebagai pencegahan kriminal ataupun mengawasi warga secara politis. Tidak perlu lagi dektektif, cukup dengan CCTV. 

Di Hangzhou ada sekitar 13 e-commmerce. Ia bekerja di salah satu e-commerce itu. Ia juga membahas perdagangan Amerika dengan China. Amerika mengalami defisit transaksi. Produk china, murah meriah banyak dibutuhkan orang Amerika Apple pun dikerjakan di China. Tenaga kerja di Amerika terlalu mahal. Tenaga kerja murah lah yang jadi kesulitan Amerika. Semenjak Rusia tidak setingkat lagi dengan Amerika. China melangkah semakin maju dengan kepesatan pembangunannya. 

Wei Can juaga bercerita soal teknologi 5G di kota ini mempercepat transaksi, akselerasi dan interaksi. Pemerintah mempersiapkan infrastrukturnya. Handphone sebenarnya menyeleksi siapa kita. Dimana kita, kebiasaan kita, perkataan kita. Semua terekam. Handphone sebagai identitas diri & siapa diri kita. Semua track record ada di ponsel. Ponsel mengkonvergensikan segalanya dan meniadakan pola bisnis lama. Kecepatan membayar dengan handphone juga merubah kebiasaan. 

Dua puluh tahun lalu, jauh berbeda dengan kota-kota di China saat ini. Fasilitas, infrastruktur jalan, bangunan. Sidewalk, dipinggir jalan dan pepohonan tertata rapi. Seperti sudah jauh terkonsep. Jalan lebar, tentu jadi andalan di sejumlah kota. Transportasi sebagian telah menggunakan listik. Semua mau menyalip kota-kota Amerika, Eropa maupun Australia. Tapi ada hal yang tak pernah dibayangkan orang tentang China. Jumlah penduduk banyak, kemiskinan begitu banyak. Sekarang perusahaan di China sendiri kesulitan mencari tenaga kerja yang bisa dibayar rendah.

Obrolan malam dalam mobil ini menambah wawasan kami sekelumit tentang China. 

Post a Comment

0 Comments