Wisata di Negeri Tirai Bambu (7)


Wisata di Negeri Tirai Bambu (7)
Dr. Yuyung Abdi


China Day 7 (kunjungan hari ke-7), tanggal 6 Oktober 2919, hari kedua berada di Shanghai, menginap di hotel Borrman. Masih ada satu lagi kunjungan wajib di showroom batu giok, 09.04-10.45. Di showroom ini tak ditunjukan proses pembuatannya. Saat masuk di lobi showroom giok dan emas, tiba-tiba disambut perempuan menggunakan bahasa Jawa. Awalnya saya mengira TWK. Wajahnya juga tidak terlalu kelihatan tiongkoknya. Tapi tidak mungkin ada TKW di China. Ia lantas menjelaskan nama, Meili atau Victoria. Memang ia lahir Jawa. Ketika umur 2 bulan, keluarga terkena Peraturan Presiden no 10 tahun 1959 (PP 10), sehingga sekeluarga pindah ke Shanghai. Meili sudah 8 kali pergi ke Indonesia, 5 kali di Surabaya dan pernah tinggal di Kalabahi, Pulau Alor, NTT.  Suaminya orang Purwokerto. Melli jelas dibutuhkan perusahaan yang berkaitan dengan kunjungan orang Indonesia ke Cun Kwok. Lantaran dwi bahasanya, membuat penjelasan lebih komunikatif. 

Setelah itu disambut Jesica, manajer di showroom giok ini. Ia asli Shanghai dan pernah menikah dengan orang Jakarta keturunan tionghoa. Namun, terdapat banyak perbedaan. Jesica menganut ajaran Budha sedangkan suaminya Kristen. Budha setiap hari makan sayur. Ia pun tidak suka pedas. Cuaca di Indonesia, panas. Sedangkan di Shanghai bisa minus 6 derajat. Udaranya juga lembab. Suaminya tak tahan, sering sakit. Jika Jesika ikut suami, orang tuanya keberatan, karena anak tunggal. 

Meski sudah tidak bersama, Jesica selalu diingatkan mantan suaminya untuk tidak melakukan tipu-tipu, “Kamu jangan tipu turis di Indonesia.” Enggak saya tidak pernah nipu. Sejak era Xi Jinping, ada toko ditutup, gara-gara ada turis membeli ditoko tersebut, ternyata barangnya palsu, terus complain. Sekarang mafia ditangkap, orang mabuk sembarangan ditangkap, copet sudah berkurang.

Jesika menjelaskan bahwa ada giok berasal Thailand, giok China. Batu giok Birma (Myanmar) merupakan batu giok terbaik dunia. Terdapat di tanah paling dalam, paling keras. Batu giok, bisa potong kaca. Namun, batu giok ada yang palsu dan tidak. Memang, jarang keliatan tiruannya. Ia dapat menunjukkan perbedaannya. Bila diberi sinar, bisa terlihat hijau. Batu ini mengandung 40 mineral. Apabila dilekatkan pada tubuh memberi efek anti radiasi. Dipercaya sebagai tolak bala, keberuntungan, kadang untuk buka toko perlu ada anak naga 9. Giok tidak ada harga standar, namun memiliki sertifikat. Ada tingkatan batu giok dan ada berapa jenis warna. Giok warna hitam juga populer sekarang. Di Shanghai memang tidak ada giok. Namun, desain giok dibuat di sini, sehingga ada namanya “ongkos bikin” batu giok. Ada gaji, buat  bayar orang design. Di Shanghai, dikenal memiliki design batu giok sangat bagus. Ini sekedar, cerita sambil lalu saja. Lantaran masyarakat Indonesia tidak banyak menaruh perhatian tentang ini. Harga batu giok tergolong sangat mahal, ada yang mengalahkan harga mobil.

Cerita lain, masih di depan showroom. Setiap bis wisata datang di tempat parkir showroom giok, pedagang langsung datang di depan area ini. Begitu banyaknya wisatawan yang dibawa ke sini, sehingga mereka begitu hapal kapan bis-bis ini datang. Mereka  pun bisa sedikit bahasa Indonesia, soal nominal uang. 

Yang lucu lagi, seorang pedagang mainan datang di depan showroom batu giok, sementara motornya diparkir di pojok. Ia menghampiri saat ada wisatawan dan menawarkan mainan anak yang bisa terbang. Semula mainan ini ditawarkan seharga 150, lantas ditawar istri saya, 27 yuan. Mereka gak marah. Minta 100 yuan. Ditawar istri jadi 30. Akhirnya penjualnya minta 50 yuan. Coba banyangin dari 150 yuan jadi 50 yuan. Setengah berkelakar, istri saya memberi rumus, “Kalau orang menjual dengan harga tertentu, maka tawar lah di bawah separuh dari  harga yang ditawarkannya.” Tapi, kalau dimarahi, bagaimana? Ya, memang harus melihat pasar. Kalo mau ya segitu, seperti orang tidak membutuhkan. Setelah ditawar istri, maka rombongan tur pada beli. Barang bawaannya, semua habis terbeli…..xi xi xi.

Usai mengunjungi batu giok, wisata tur menuju rumah makan. Kita memang makan siang lebih awal (11.03-12.03), karena mengambil jalan searah dengan pasar tradisional sebagai destinasi selanjutnya. Saat parkir bis di underground parking, rupanya ada satu ibu ketinggalan. Padahal hanya sekilas dia melihat orang jualan. Tapi rombongan naik ke atas dan tertinggal lah ia sendiri. Satu jam kemudian baru ketemu. Ini persoalannya tidak ada komunikasi menggunakan handphone. Lantaran membeli sim card China termasuk pulsa, tapi terkendala untuk digunakan. Kami menggunakan paket Telkomsel roaming selama 7 hari, bisa beli di aplikasi my telkomsel atau *266#. Lancar saja digunakan di China. Meski ada kendala ketika mengupload foto di Instagram, aplikasi instagram saya tiba-tiba hilang. 

13.33-16.00 menuju pasar tradisional melewati Gucheng Park terlebih dahulu. 
Toko-toko di pinggir jalan, pertama kali masuk biasanya menjual barang lebih mahal dibanding setelahnya. Mending beli souvenir, tas koper, diecast, mainan, baju anak-anak, setelah mencocokkan toko di awal. Masuk melihat-lihat di Yuyuan Market- Shanghai Old Street

Kita juga harus lihai menawar, mencocokkan dulu dengan harga di toko besar. Tempelan kulkas awalnya ditawarkan 25 yuan. Tapi, ketika ditawar lagi jadi 15 yuan dapat 2 buah. Gak masuk akal kan ya. Memang di sini harus nawae. Mobil diecast tertulis 92 yuan. Ketika ditawar 70 yuan, langsung diberikan. Sedangkan mobil diecast 80 yuan diberikan jadi 60 yuan. Jangan pernah membeli penjual tanpa toko, biasanya nawari barang dengan maksa, atau uang kembaliannya bukan yuan atau diberi barang bukan barang awalnya.



Setelah itu, berpindah ke Pasar tradisional modern 17.00-18.20. Tepatnya di A.P. Plaza. Plaza terdapat tailors, optical, fashion & gifts market, internasional pearl market, restoran (chinese & western). Mirip ITC Mangga Dua Jakarta atau Pasar Atum Surabaya. Harganya lebih mahal dibanding tradisional market. Di tempat ini tidak banyak yang membeli sesuatu. Kami gak seberapa tertarik di tempat ini, hanya beli beberapa tempelan kulkas. Memang gak harganya menyesuaikan dengan tempat lebih bagus dibanding pasar tradisional. 

Dilajutkan makan malam 19.03-19.48. Ini hari terakhir berada di Shanghai. Artinya, hari terakhir adalah kesempatan untuk belanja sebanyak-banyaknya. Kami saja harus menambah satu koper lagi untuk oleh-oleh. Sebelum menuju airport, masih mampir dulu di mall Florentia Village. Mall dua lantai bergaya Eropa disertai taman-taman. Menarik untuk foto. Hadir di sini brand kelas menengah dan restoran. Kami sekedar window shopping dan memotret saja,  meskipun foto menjelang senja, suasana lebih menarik.



Hanya menikmati jalan-jalan di mall 20.12- 20.41, selanjutnya menuju ke Shanghai Pudong International Airport (PVG). Ada dua bandara di Shanghai, yakni PVG dan Bandar Udara Internasional Hongqiao Shanghai. Pesawat Singapore Airline SQ 825 berangkat tengah malam pukul 00.30. Masih banyak waktu tersisa dan antrian juga tidak terlalu panjang. Dalam kabin pesawat pun tidak terlihat banyak penumpang. Sebagian penumpang juga mencari tempat sendiri agar bisa berselonjor. Pukul 05.25 pesawat mendarat di bandara Changi, Singapore. Hanya ada waktu 1,5 jam digunakan untuk berbelanja oleh-oleh, termasuk coklat dan makan nasi lemak airpot ini. Pukul 07.00 sudah antri masuk pesawat. Tepat jam 08.00 waktu Singapore take off meninggalkan bandara Changi menuju ke Surabaya dengan pesawat SQ 930.

Kesimpulan
Kenapa tour bisa murah? Didukung banyak sponsor. Misalanya SQ menawarkan untuk 10.000 seat dengan harga istimewa untuk konsorsium biro perjalanan. Maka dalam satu tahun, berarti 356 hari, harus bisa mendapatkan 300 penumpang dari Indonesia, dengan rute Jakarta maupun Surabaya. Makassar ikut Surabaya dan Medan ikut Jakarta. Sponsor  lah yang membiayai sehingga tur jadi murah. Sebagai gantinya, mereka menerapkan mandatory shop. Peserta tur wajib mengunjungi toko yang telah ditentukan sebagai sponsornya. 

The great wall biasanya jadi salah satu tujuan utama kunjungan ke wisata China. Selain sebagai wisata sejarah, China juga kaya terhadap wisata alam, belanja, kuliner, seni akrobat, Didukung dengan arsitektur bangunan old style china, hiburan maupun obat tradisional. Ada juga yang berburu souvenir lokal dari kerajinan seni lokal, kerajinan tangan, lukisan, giok, perabotan china, fashion lokal, perhiasan (batu giok maupun emas). Memikmati buah buahan segar, anggur, jeruk, toko teh, kedai teh (house of tea), obat herbal china, produk kecantikan, jajanan ringan restoran lokal, seni akrobat dan tempat hiburan. China memang tempat unik. Bahasa, budaya, sejarah berpadu antara tradisional dan modern. 



Bis kota dan sebagian kendaraan menggunakan listrik sebagai pengganti bahan bakar. Semua serba listrik. Seperti diketahui, China bukan penghasil minyak bumi (solar, bensin). Sebab itu, pemerintah china mati-matian menggunakan sumber listrik untuk transportasi. 

Mereka lebih suka menggunakan transportasi umum atau dengan sepeda. Kalau pakai mobil, misalnya harga mobil Wuling 30.000 yuan. Sekitar 60 juta. Tapi, parkir di mal harus mengeluarkan 15 yuan perjam di Shanghai.  Bahkan ada 80 yen perjam. Itu pun siapa paling duluan siapa yang dapat untuk parkir. Untuk bahan bakar 1 liter adalah 7 yuan, berarti 14 ribu rupiah.


Di China, orangnya tidak ramah, kecuali di hotel atau penjual. Jadi jangan kaget. Paling sulit adalah buang air besar. Lantaran budaya nya berbeda dengan Indonesia. Buang air besar dibilas dengan air, sedangkan di sana  menggunakan tissue. Tisu dibuang di tempat sampah. Ini lah yang jadi bau. Jadi, Indonesia cocok untuk hidup. Di China cocok untuk jalan jalan

Sampai jumlah di destinasi wisata lainnya.

Post a Comment

0 Comments