Wisata ke Negeri Tirai Bambo 3


Wisata ke Negeri Tirai Bambu (3)
Tiananmen Square dan Forbidden City
Dr. Yuyung Abdi

Hari ke-3 wisata Go China. Diawali makan pagi hotel. Dengan menu masih sama dengan kemarin. Dua telur rebus dan potongan jagung. Tujuan wisata hari ini, pergi ke Tiananmen Square (alun-alun luas). Gu Gong (kota terlarang), Pertunjukan Seni akrobatik dan Bird Nest Stadium. 
Di China masih dalam suasana liburan. Jalan-jalan agak sepi. Namun, kerumunan beralih di tempat wisata. Bus mengantarkan tidak berada di tempat terdekat di lapangan Tiananmen, tapi hanya sampai di Jalan Qianmen East. Turun dari bus, rombongan beralan kaki menuju Jalan Guangchang East Side sebelum menuju ke Tiananmen Square. Tour leader local mengingatkan, “segala tas di taruh di depan dan dompet jangan ditaruh di celana yang terlalu longgar. Tidak memakai perhiasan mencolok, tidak mempertontonkan bawaan uang.” Ini usaha menghindari tindak kejahatan, lantaran ada kesempatan. Sebelum masuk di lapangan Tiananmen, tentara “anyaran” berdiri tegak lurus, tanpa gerak. Jumlah mereka tidak sedikit. Hampir setiap berapa meter ada tentara. 


Setiap orang harus melewati security check. Grup dipisahkan dengan individu. Antrian begitu banyak, sedangkan alat scanner nya tidak begitu banyak. Penuh manusia yang akan masuk di lapangan. “Apa yang dilihat ya,”guman saya. Ini lebih cocok manusia melihat manusia. Di China, dimana mana memang banyak manusia. Sampai teman asli cun kwok, merasa pusing terlalu banyak manusia. Menurut TL, mereka berasal dari daerah pinggiran atau orang desa, ini kesempatan hari libur mereka berbondong-bondong ke Beijing.  Kemarin, hari kemerdekaan Tiongkok, 1 Oktober, mereka tidak bisa datang ke tempat ini, lantaran ada upacara kenegaraan. Lapangan Tiananmen pun dipenuhi manusia. Semua orang ingin memotret, sehingga saling bersinggungan untuk mendapatkan foto terbaik. Tentu saja, tidak bisa motret berlatar belakang gedung Monument Entrance Forbidden City dengan baik. Gedung yang terdapat foto Mao Zedong.


Tiananmen Square maupun Forbidden City masuk dalam distrik Dongcheng. Ada tempat popular lainnya di distrik ini, yakni Wangfujing (tempat jalan-jalan, makan dan belanja). Sebagai symbol perdagangan Beijing; Gulou, Yonhegong maupung Dongzhimen. Sedangkan di bagian selatan terdapat Temple of Heaven. Distrik Beijing terdiri dari lima, yakni Dongchen, Xicheng, Chaoyan, Haidian dan Fengtai. 

Tiolet di Tiananmen, sudah lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Di tempat ini, toilet dibuat banyak dan panjang. Bisa menampung sekitar 40 orang. Tidak ada antrian untuk masuk toilet. Namun, kebersihan dari orang nya masih kurang. Kadang habis buang air besar, tidak disiram. Padahal hanya sekedar memencet. Namun, tetap saja, baunya masih terasa. Lantaran tidak menggunakan air untuk membilas, tapi menggunakan tissue guna membersihkan bekas kotoran kita. Tissue bekas buang air dibuang ditempat sampah di WC itu. Jadi ini yang membuat bau. Cara mengatasinya. Saya selalu membawa botol mineral yang berisi air untuk membersihkan kotorannya. Di tempat ini pun, tioletnya terbuka separuh. Hanya bagian depan saja. Kalau tidak terbiasa tidak akan bisa buang air di sini. Sebagian rombongan akhirnya, tidak bisa buang air.  Sebaliknya di forbidden city justru kesulitan buang air, juga sama saja tidak dibilas dengan air. Di tempat ini yang antri bisa sampai 30 orang. Jadi kebiasaan di China memang buang air besar tanpa dibilas dengan air. 

Kisah paling banyak diingat orang di Tiananmen Square adalah penyerangan demontran prodemokrasi. Inilah yang jadi ikon sejarah. Kisah lain juga menarik, yaitu The Tank Man. Seorang laki-laki sendirian menghadang barisan empat tank pada pagi hari, 5 Juni 1989 di depan plaza dekat, Jalan East Chang’an. Beberapa videographer dan fotojurnalis mengabadikan aksi ini di balkon lantai 6 Hotel Beijing. Dunia mengenangnya sebagai sosok pemberani yang memberi pesan bahwa korban sudah cukup banyak, maka tidak perlu meneruskan aksi ini lagi.

Waktu yang dihabiskan di Tiananmen Square dari 09.00-10.46 Rombongan meninggalkan tempat ini, melewati terowongan di bawah Jalan East Chang’an untuk masuk taman belakang. Kondisi ini, tidak mungkin bisa berjalan bersama-sama. Tentu saja, ada yang tertinggal. Soalnya “uyel-uyelan”, hingga kita tidak bisa mengawasi satu persatu. Untung, Tour leader bisa bertemunya meski butuh waktu lama. 


Tujuan selanjutnya adalah kota terlarang (forbidden city). Forbidden city adalah wisata sejarah ini terletak di pusat kota. Dalam bahasa Cun kwok disebut dengan Gu Gong. Komplek istana kekaisaran, dikelilingi parit (sungai) berbentuk segi empat. Meridean Gate adalah pintu masuk dimana terdapat pengecheckan tidak dan barang bawaan. Seharian tidak cukup untuk berkeliling memasuki satu persatu gedung dan ruangnnya. The Palace Museum, Hall of Supreme harmony, Hall of Preserving Harmony,  Gate of Thriving, Palace of Earthly Tranquility, Palace of Tranquil Longevity dan lain lain. Kekuatan bangunan pada arsitekturnya, kayu penyangga lengkap dengan ornamen. Banyak larangan untuk menjaga kelestarian. Tidak boleh memanjat.idak boleh duduk di pagar dan ditempat tertentu. Jam operasionalnya tidak lebih dari 18.00. Dari sebagian bangunan terdapat kamar-kamar yang digunakan tempat tinggal ribuan selir kaisar. Namun, masih belum ada dari sumber terpercaya yang menyatakan secara detail, bila selirnya mencapai ribuan. 



Usai dari kota terlarang dari 11.00-11.40, rombongan berjalan kaki menyusuri Jalan Dong’anmen hingga sampai perempatan Wangfujing. Banyak jalan ditutup, sehingga harus berjalan kaki, termasuk Jalan Dong’amen. Warga Beijing sendiri lebih memilih menggunakan sepeda. Sepeda jadi transportasi favorite warga. 


Di jalanan Beijing dipenuhi lalu lalang sepeda. Parkir sepeda di tempatkan di ruang khusus pedestrian. Biasa disebut station bike atau parkir sepeda. Terdapat sekitar lebih dari 500 parkir sepeda yang tersebar di Beijing. Sepeda bisa disewa dengan aplikasi. Persewaan sepeda online ini diawali tahun 2012, dengan tarif perjamnya sekitar 2000 rupiah. Ini membuat orang jadi menyukai bersepeda.

Beijing Acrobatic Show
Pukul 12.27 kita meninggalkan lokasi ini dan dilanjutkan makan siang. Tujuan selanjutnya menonton seni akrobatik. Tiba di tempat pertunjukan lebih awal 14.30, Bila terlambat tak bisa masuk. . Ini sebabnya tour leader local, meminta untuk tidak datang terlambat sebelum acara dimulai. Pukul 15.00 tepat pertunjukan acrobat dimulai. Benar-benar on time. Pertunjukan memakan waktu 1 jam (15.00-16.00). Tontongan atraksi atau pertunjukan akrobat semacam menu wajib bagi tur wisata di China. Aksi beresiko tinggi dan menegangkan. Pertunjukan acrobat selalu diselipkan dalam rangkaian tur wisata didukung penuhpemerintah. Pentas mereka sudah terjadwal dengan baik. Pendapatan mereka juga berasal dari  pertunjukan ini, sudah bisa mencukupi kebutuhan hidup. Kemampuan pemerintah China untuk mengintegrasikan tontonan ini dengan dunia pariwisata patut dicontoh. Di Indonesia seni pertunjukan budaya lebih banyak terpisah dengan kunjungan wisata. Belum diintegrasikan dengan baik. Wisatawan pergi ke danau toba maupun bromo, ya cuma menikmati alam saja, tidak beserta pentas seni budayanya. Pentas di tempat ini tergolong biasa. Ada  pertunjukan acrobat ini lebih bagus lagi, dengan petanaan layar, air dan lampu serta konsep narasi yang menarik. Akrobatik spektakuler biasanya digelar di Chaoyang Theatre maupun  Dongtu Theatre. 


Setelah acara, rombongan diajak ke The Place Mall. Seperti pada umumnya mall di Indonesia. Namun, paling istimewa mall ini, terdapat gaint screen TV yang berada pasang di atas langit-langit. Panjang dan lebarnya memenuhi lorong jalan. Menghabiskan waktu sekitar satu jam (17.00-18.08). Starbuck jadi pilihan untuk nongkrong di sini. Sedangkan untuk roti Paris Bangutte, kalau di Indoensia mirip dengan BreadTalk Indonesia. Namun, lebih banyak lagi variannya. Sedangkan baju branded disini masih jauh lebih murah di Bukit Bintang, Kuala Lumpur.


Rombongan bis wisata menuju ke Stadium National “Bird Nest”. Kita mengenalnya sebagai stadium sarang burung. Untuk menuju di depan stadium olah raga yang digunakan Olimpiade Beijing 2008, harus jalan kaki sekitar 12 menit. Sebelum masuk area depan Stadium, ada deretan toko penjual souvenir, ahkan ada yang dilengkapi dengan resto. Lantaran saya paling suka pernak pernik souvenir, maka banyak menhabiskan waktu untuk memilih benda ini. Tentu saja harganya lebih mahal dibanding yang ada di pasar tradisional. Souvenir itu berupa boneka panda, kipas lipat, gantungan kunci,  potong kuku, chopsticjs, silk, kaos, baju, piring pajangan, souvenir lukisan gantung, cendramata manet kulkas, dompet, magnet kulkas. Souvenir ini bisa juga dibeli di toko online Indonesia. Lebih baik membeli yang tidak dijual online shop Indonesia, biar berbeda. Kita menghabiskan waktu 18.20-21.00. Kembali ke Ease Cloud Hotel pukul 21.30.

Post a Comment

0 Comments