Wisata Negeri Tirai Bambu (5)


Wisata Negeri Tirai Bambu (5)
Dr. Yuyung Abdi



Usai menikmati makan malam di restoran Qing Chun, Hangzhou bersama teman dokter asal kota ini. Lantas bergabung lagi dengan tema-teman rombongan tur, yang sudah sampai dulu di Meiziqing Hotel Hangzhou (Starway). Pagi, 07.30 tanggal 4 Oktober 2019, breakfast di restoran hotel. Berangkat pukul 09.00 dari Hangzhou menuju ke kota Suzhou. Hangzhou berada di provinsi Zhejiang. Sedangkan Suzhou berada di provinsi Jiangsu. Kota ini memiliki banyak sebutan, yakni Kota Air dari Timur, Kota Seribu Kanal, Kampung Air, Garden City, Venice of The East (Venesia dari Timur). Di kota ini terdapat ratusan sungai, kolam air, danau dan puluhan ribu saluran air. Sungai sebagai medium transpotasi  sekaligus sebagai tempat wisata. Kapal mengangkut puluhan orang hilir mudir setiap menitnya. Pinggir sungai diperindah dengan lampu-lampu restaurant bergaya arsitektur tradisional dan pertokoan pinggir sungai mempercantik pemandangan di kala senja. Kanal-kanal ini memiliki air jernih tidak buthek (keruh). Ada sekitar lebih 200 taman di kota Suzhou yang terjaga dengan baik. Taman-taman ini sebenarnya sudah ada sejak jama Dinasti Ming dan Qing.



Sebelum mengujungi tempat wisata, maka terlebih dahulu berkunjung ke produk latex, Artiflam dari pukul 10.00-11.50. Diajak memahami latex pillow vs normal pillow. Ada harga 100 yuan ada 1000 yuan. Bedanya apa? Perbedaannya tidak hanya jenis, tapi kualitas dan bukan produk massal. Tentu saja, pada akhirnya, juga peserta tur membeli. Lantas, dilanjutkan makan siang. Dalam perjalanan di bis, tour leader menyampaikan beberapa cerita. 




Tour leader Meiling (Ling ling) bisa bahasa Indonesia, menjelaskan saat ia mengawal rombongan yang berbelanja. Ada seorang ibu diluar pengawasan tour leader, ibu ini ditawarin barang oleh orang lokal. Namun, ia dibawa ke jalan tikus. Selanjutnya peserta tur ini ditipu bahwa barang yang ia beli tidak sama dengan barang awal yang diperlihatkan. Meling menjelaskan, “Saya gak bisa bilang ke pedagang, kalau barangnya jelek. Saya nanti dimusuhi mereka. Tapi saya sampaikan dulu di sini. Apabila membeli sesuatu memang harus hati-hati, sebaiknya membeli yang berada di toko.” Lantaran di sana ada segerombolan orang yang berperan untuk menipu. Sindikat ini tidak hanya menipu turis asing yang tidak tahu, tapi turis lokal pun mereka tipu. 

Perlu hati-hati orang yang menjual di pinggir jalan. Mereka juga melakukan penipuan dengan cara menukar uang kembalian tidak menggunakan yuan (RMB), tapi menggunakan mata uang lain, seperti uang Taiwan maupun Rusia. Karena peserta tur tidak bisa membedakan uang RMB dengan Taiwan. Krus Taiwan dengan Indonesia hanya sekitar 500 rupiah sedangkan RMB dengan Indonesia sekitar 2000 rupiah. Ketahuannya ketika dibelikan lagi di toko resmi, Ia baru tahu kalau uang itu bukan uang Renmimbi (Chinese Yuan).

Di China, juga harus berhati-hati membawa tas dan dompet, karena banyak juga pencopetnya. Kadang saat kita motret, menaruh barang kita di bawah kaki. Saking asyiknya tidak terasa tas nya diambil orang. Yang sering terjadi adalah mencopet handphone. Selain itu, jangan juga datang ke peramal mesti akan dijelaskan, “Oh kamu sakit, kehidupan sulit.” Ya, Itu memang jualannya

Tour leader juga bercerita bahwa ada kejadian. Laki-laki yang ikut tur. Ada perempuan yang menawari pijat. Jelas, perempuan cantik ini tidak sendiri. Mereka tentu ada sindikatnya. Selesai pemijatan, mereka minta bayaran 20.000 yen (40 juta rupiah). Akhirnya mau tak mau membayar mereka pakai credit card. Cerita ini juga saya pernah dengar dari staf kedutaan Swiss ketika seorang anggota DPR RI berkencan dengan perempuan. Tapi mereka ternyata sindikat. Selesai kencan mereka meminta bayaran 4000 euro. Ya, nasib.

Bila menggunakan taksi, hendak lah taksi yang berwarna biru. Kalau taksi warna merah milik swasta. Kadang sopirnya tidak mengantarkan langsung di tempat tujuan, tapi diputar-putarkan agar biayanya membengkak. 

Meiling menceritakan lagi, di bandara juga pernah terjadi penipuan. Yakni menjual i-phone terbaru, dengan harga sangat murah. Ketika terjadi transaksi, dengan wisatawan itu tadi, maka penjualnya dengan cepat mengganti i-phone nya dengan i-phone miniature (handphone display dari plastic). Setelah diketahui bawa itu barang mainan. Ia kembali mencari penjual itu, tapi tidak ada lagi. 



Tak terasa, sudah sampai ke kota Suzhou. Jaman dulu, kota Suzhou sebagai tempat persinggahan para kaisar dan bangsawan. Kota ini pun dulu dikenal perempuan cantiknya. Selir selir kerajaan berasal dari sini. Meskipun realitas yang saya jumpai belum menemukan yang cantik. Wisata paling dikenal di Suzhou adalah Tiger Hill (bukit harimau). Dalam wisata tur ini dipilih Tiger Hill 
(虎丘 Hǔ Qiū) sebagai kunjungan wisata. Buka dari jam 08.00-17.00. Menurut cerita legenda, Raja He Lu, negara Wu meninggal dari perang melawan negara Yue. Anaknya memakamkan dalam Surging Sea Hill. Setelah kematian tiga hari (ada yang menyebut 4 hari) Raja He Lu, lantas muncul harimau putih dari bukit. Sehingga orang-orang menamainya Tiger Hill. Di tempat ini terdapat pula Tiger Hill Pagoda (Hu Qiu Ta), Charming Garden in Tiger Hill, Luxury Forest in Tiger Hill maupun Broken Beam Hall (Duan Liang Dian). Lantaran tempatnya begitu luas dan dikelilingi kanal, maka disewakan perahu maupun mobil elektrik. Selain itu juga ada wisata Shantang. jembatan Waibaidu maupun taman Humble Administrators Garden. Di tempat wisata ini kita menikmati dari 15.30-16.45. Selanjutnya, menuju  restoran dekat sungai. Tur kali ini, tiba di hotel lebih awal 19.45, sehingga ada waktu untuk melihat-lihat daerah sekitar hotel.  






Bahasa orang Suzhou lebih lembuh dan kulit lebih halus. Berbeda dengan orang Beijing, kulit kasar. Bahasa Suzhou. Kalau “Ayo” artinya cewek cantik, kalau Ayoyo artinya cantik sekali. Kalau “Aya” jelek. Kalau “Ayaya” artinya jelek sekali. Kini, tak banyak lagi cewek cantik di suzhou, karena semua sudah pergi keluar.


Kota ini juga terkenal dengan suteranya. Sutera di sini tidak ada sambungan. Kalau ada sambungan, berarti mati. Jaman dulu, perempuan Suzhou memilihara ulat sutera, dengan cara digembol pada kain perutnya. Budidaya sutera telah dilakukan sejak jaman kerajaan. Setiap perempuan memelihara ulat sutera. Di Suzhou, kuliatas sutera di daerah ini memang paling bagus. Baju sutera maupun selimut sutera, dipakai lebih sejuk berbeda dengan kain biasa. 

Post a Comment

0 Comments