Wisata Negeri Tirai Bambu (6)


Wisata Negeri Tirai Bambu (6)
Dr. Yuyung Abdi

Shanghai adalah masa depan china
China Day 6, (kunjungan hari ke-7), tanggal 5 Oktober 2019 masih menginap Wanyue Hotel, kota Suzhou. Pukul 08.14 mulai meninggalkan hotel usai sarapan pagi, lantas berkunjung ke pabrik pembuatan sutera, 09.00-10.00. Di tempat ini kami mendapat edukasi proses pembutan sutera. Ada proses awal, dari ulat sutera hingga jadi kepompong dan proses pemintalan. Setelah dipintal, panjang benang sutera mencapai 500-900 meter per kepompong. Ada juga alat pemintalan kuno ditempatkan pada museum pabrik. Memang pada akhirnya tempat ini juga berjualan hasil sutera. 


Selepas itu, bis yang membawa rombongan tur menuju ke kota Shanghai dari Suzhou. Sebelum masuk tol, dilakukan pengecheckan sabuk pengaman di bis. Polisi masuk ke dalam bis, lantas memeriksa dari depan. Tidak ada pengechekkan kelengkapan surat-surat. Bus dipersilahkan memasuki tol, 10.43, setelah semua beres.


Dalam perjalanan di bis, Meiling bercerita lagi. Kali ini tentang nenek yang ketinggalan gigi palsunya. Setiap tur, cerita ini selalu disampaikan. Yaitu, nenek peserta rombongan tur, ketinggalan gigi palsu di kamar mandi, padahal bis sudah meninggalkan hotel. Saya belum tahu apakah kejadian ini senantiasa terjadi ataukah kejadian sekali tapi dijadikan bahan obrolan tour leader satu dengan lainnya. Setiap tour guide kerapkali menyampaikan itu. Namun, kejadian itu benar-benar ada. Ada juga, peserta ketinggalan obat darah tinggi ketinggalan Hal-hal sederhana tapi krusial bagi peserta tur, tapi merugikan penyelenggara. 


Meiling bercerita lagi bahwa kebijakan satu anak dalam pasangan suami istri sudah ditiadakan sejak tahun 2016 di China. Suami istri sudah boleh memiliki ada dua oran. Pemerintah China melakukan kebijakan satu anak pada tahun 1979 setelah populasi penduduk China diketahui semakin membengkak di atas 1 millar orang. Kini manula semakin banyak dibanding anak muda sehingga kebijakan pembatasan itu dilonggarkan jadi dua anak. 

Sebagian besar laki-laki China berusia 40-50 tahun juga belum punya istri. Beberapa laki-laki merasa kesulitan mencari istri asal China sendiri (cunkwokren). Bagi mereka, perempuan China dianggap mahal maharnya. Di TV pun banyak orang cari jodoh. Yang lebih aneh, di taman ada juga yang cari jodoh. Ada tanda yang digunakan. Lantas tukar menukar nomer handphone

Sebagian dari mereka mencari cara menikah di luar China. Seperti, kawin dengan orang Vietnam. Tapi mereka terbelenggu dengan jasa kawin, Ada yang benar, tapi ada juga yang menipu, membentuk sindikat penipuan. Mereka dinikahkan di hotel. Setelah pernikahan dilangsungkan dan pembayaran dilunasi. Maka, perempuan Vietnam ini lari meninggalkan hotel. Belum ada penjelasan detail. Apakah perempuan ini pergi setelah melayani laki-laki. Semacam cinta semalam. Apakah dia pergi, tanpa ada layanan seksual dengan laki-laki ini. 

Ada cerita lagi yang mengejutkan kami, yakni memakan ari-ari bayi (plasenta) dalam kepercayaan sebagian orang China, sebagai obat. Indonesia, ari-ari (sebagai nutrisi saat berada dalam kandungan) tentu dikubur. Setelah bayi lahir, tali pusar diputus, ari-ari ini diserahkan kepada keluarga. Sebagaian masyarakat Indonesia memasukkan dalam kendi dan ditanam di tanah depan rumah. Di China, kepercayaan memakan ari-ari bayi dilakukan agar awet muda. Ini dilakukan secara turun-temurun.

Cerita tour leader berhenti, pada pukul 13.30, ketika mau sampai restoran dekat Huangpu Park. Restorannya terlalu kecil dan yang rata-rata rombongan turis makan di tempat ini. Di sela waktu makan, saya gunakan waktu untuk melakukan ibadah sholat. Tidak mungkin sholat dalam restoran, lantaran sempit. Saya lantas keluar di depan restoran. Di situ ada taman. Rupanya ada juga orang Bangladesh telah melakukan sholat di situ. Jamak qasar, saya lakukan di taman ini. Selesai sholat, saya diberi tahu istri saya, kalau semua orang pada melihat saya sholat, apalagi pegawai restoran. “Iyya, memang mereka kan ideologinya komunis. Di sini, agama bukan hal penting, cenderung ateis dibanding agnotis,” jawabku sambil terseyum.


Dilanjutkan dengan foto bersama di Huangpu Park dengan latar belakang Oriental Pearl TV Tower. Setelah itu menuju Nanjing Road, Shanghai. Kita menghabiskan waktu jalan-jalan dan belanja di sini. Kayak Braga Bandung atau Mailoro, Jogja. Bedanya jalan ini ditutup, hanya dibuat pejalan kaki. 



Shanghai dianggap surga belanja bagi para wisatawan. Terdapat berbagai pusat perbelanjaan. Segmen papan atas ada wilayahnya. Sedangkan kalangan menengah dan bawah ada juga areanya. Di Nanjing Road, kompleks pusat perbelanjaan popular. Dimana jalan mobil diubah jadi pedestrian membuat jalan ini semacam fashion street.  Shopping Street di kawasan Nanjing ini dibagi jadi dua. Yakni East Nanjing Road Dan West Nanjing Road. Orang lalu lalang tanpa henti di sini. Apalagi waktu itu, hari libur independent day China yang berlangsung 1-7 Oktober. Tempat ini jadi lautan manusia. Orang orang daerah juga datang ke sini. 

Sebagai fashion street, saya dan istri belum melihat perempuan Shanghai maupun bule cantik berjalan sebagaimana dulu di Orchad Road Singapore. Wisata belanja, kami gunakan untuk melihat model barang, kaos dan miniature diecast di toko besar. Sambil masuk outlet, di pusat perbelanjaan kelas menengah. Namun, harga masuk termasuk lebih mahal dibanding dibanding Bukit Bintang Malaysia atau Hong Kong. Cuman saya menemukan barang-barang kecil di Miniso yang menarik perhatian saya. Kita menghabiskan waktu 15.15-16.30 di tempat ini.

East Nanjing Road jadi wisata untuk pejalan kaki. Samping kiri kanannya adalah pusat perbelanjaan bernuansa klasik, China, eropa,  maupun modern. Hampir semua merek nangkring di pusat perbelanjaan. Mulai dari mall megah, plaza, department store, toko fashion maupun butik. Dari high endhigh street, merk luar, lokal, tembaanmerk luar juga tersedia.

Tentara setiap beberapa puluh meter silih berganti berjaga saat masih dalam suasana hari kemerdekaan Tiongkok. Pedagang kecil tidak diperbolehkan berjualan di sini. Bila ingin minum, tidak ada yang jualan lewat vending machine drink maupun pedagang kecil. Mesti masuk ke dalam pusat perbelanjaan. Di dalam mall itu. Di sana ada  toko kecil lokal, minimarket, fashion, box penjualan,  ATM, restoran. Lantaran hari libur nasional, maka hari ini tidak ada aksi pertunjukan maupun promosi barang yang dikemas dengan menarik.



Usai jalan-jalan di Nanjing Road, maka rombongan menuju Starbuck Shanghai. Starbuck Reserve Roastery di Shanghai adalah Starbucks terbesar di dunia. Sebelum masuk, harus antri terlebih dahulu. Sepuluh pengujung masuk, nanti menunggu giliran berikutnya. Ketika masuk, meman desain interiornya sangat menawan. Ada proses penggorengan kopi yang bisa dilihat langsung pengunjung. Lantai atas dan lantai bawah,  tempat duduknya dipenuhi pengunjung. Betapa kami sebenarnya begitu menikmati suasana ini, tapi waktu begitu terbatas, 17.23-18.13. Sebelum naik Cruise di sungai Huangpu, kita makan dulu.  


Sebelum naik Cruise China Life (kapal pesiar), antri di halaman luar dalam empat lajur panjang. Di dalam gedung dermaga, antrian masih mengular untuk masuk ke Cruise. Harga tiket 120 yuan, tapi tarif jadi 180 yuan. Begitu dibuka, orang berlarian menuju ke kapal. Saya kewalahan, lantaran rombongan tidak bisa cepat naik. Akibatnya, di desk atas penuh manusia. Sebab itu tidak bisa memotret dengan baik. Saya kebingunan untuk cari cara biar bisa memotret. Di depan desk ada ruang yang masih kosong yang bisa melihat sungai dari depan, tanpa berdesakkan. Saya bertanya pada penjaga, “apakah boleh masuk di desk depan.” Boleh, asal bayar 100 yuan (200 ribu rupiah) per orang. Ok, gak masalah. Dengan senang hati, akhirnya kita dan Melly bisa menikmati suasana gemerlap lampu-lampu gedung di pinggir sungai selama 1 jam, 20.30-21.30 di forecastle desk. Langit tidak terlihat gelap, tapi justru terang. Bagaimana tidak terang, banyak sekali cahaya yang ditembakkan kelangit dari gedung-gedung. Sebenarnya yang saya inginkan justru naik Shanghai tower di observation desk. Memotret dari atas sini justru sangat menarik bagi seorang fotografer seperti kami. Setidakknya berlayar pada pada waktu senja, nuansanya jauh lebih bagus. 

Post a Comment

0 Comments