Membangun Bisnis Dari Potongan Besi


H. Slamet Otomo, ST., M.MT 

Besi adalah bagian kehidupan. Hampir setiap sendi kehidupan, besi senantiasa dibutuhkan. Konstruksi, peralatan, senjata, mesin, kendaraan menggunakan bahan dasar besi. Besi tidak jauh dari kehidupan Oetoyo, bahkan besi jadi bagian hidupnya. Ia akrab dengan besi sedari ke- cil. Besi yang terwujud sebagai mesin-mesin itu mengajari dirinya. Menempa karakter pribadinya. Dari besi itu lah rejeki Allah mengalir kepadanya. 
Usaha Oetoyo dimulai dari titik nol. Benar-benar tidak ada modal apapun. Bergerak maju dengan kemampuannya. Begitu, melintasi jalan, tak ada kilometer yang membatasi­ nya. Persona yang ulet, cekatan, kuat saat diterpa masalah. Pribadi yang tak gampang menyerah. Tidak pernah meninggalkan sifat produktif, kreatif dan inovatif. Ia bagaikan besi. Kokoh, keras & kuat, tapi bisa dibentuk. Tiada sebutan “kepa- la besi” untuk memvisualisasikan “keras kepala”. Yang ada kiasan “kepala batu” buat menjelaskan keras kepala. Lantaran besi masih bisa dilebur, lantas dibentuk. Sedangkan batu tak bisa. 

Karakter Oetoyo ditempa bagaikan besi.

“Saya bisa” selalu ada dalam diri Oetoyo ketika terdorong melakukan sesuatu. “Saya bisa” ini bukan bentuk takabur atau sombong. Tapi semangat menggebu untuk bisa. “Saya bisa” diukur lewat kemampuan dan keilmuannya. Ia belajar, dimulai dari pertanyaan, mengapa mereka bisa, kita tidak bisa. Bersikap ingin tahu, membuat ia bertindak analitis dengan mempertanyakan sesuatu demi tambahan pengetahuannya. Teliti dan tekun setiap apa yang ia dibuat. Memperhatikan, mencari informasi, mencermati dan melalukan resolusi. 

Setiap kerja ia jalani, tak lepas dari mesin dan besi. Kepala bagian teknik disandang, lantaran kepiawaiannya di bidang mesin. Mulai bekerja di CV. Almas, PT. Harapan Desa Kita, PT. Blambangan Raya, PT. INKA, hingga Komisaris Utama PT. Refindo, semua terkait dengan mesin dan besi. Lewat potongan besi, mengantarkan Oetoyo dari pekerja, pimpinan, berlanjut entrepreneurship. Dalam perjalanan hidupnya, ia jadi pribadi pandai bergaul. Punya segudang teman yang jadi berkah. Sosok supel, sehingga mudah berkomunikasi dengan orang lain. Tak disangkal, bila ia punya kelebihan negosiasi dalam bisnis, ulung dalam me-lobby dan membangun jejaringnya. Oetoyo memang memiliki jiwa bisnis. 
Kombinasi multitalenta Oetoyo, tidak hanya fokus pada kemampuan marketingnya, tapi sekaligus memformulasikan strategi pengembangan bisnis. Usaha konstruksi tambang membuka ruang baginya untuk senantiasa berkreasi. Memu- 
lai usaha tanpa modal, didasari orang percaya terhadap hasil kerjanya. Kapabilitasnya selalu diakui. Ia dikenal seorang perintis. Ketika alat konstruksi tambang di bawah tanah, sebagian besar memakai produk luar negeri. Oetoyo lah memulai membangun local brand tumbuh bersaing dengan brand internasional. Keberhasilan itu lah yang didambakan Oetoyo dengan usahanya. 
Bagi Oetoyo besi itu spesial. Ia menilik pada firman Allah, begitu istimewanya sifat besi hingga diabadikan dalam Surah Al Hadiid (57:25) Dan Kami turunkan (anzalnaa) besi yang mempunyai kekuatan hebat dan banyak manfaat bagi manusia.” Dari rejeki Allah lewat mesin dan besi itu lah Oetoyo mendirikan “Rumah Allah” di perusahaannya. Cita- cita yang dulu ia idamkan, akhirnya terwujud. Nama masjidnya tidak jauh dari kata besi. Zubarul Hadiid (potongan- potongan besi) adalah nama masjid PT. Refindo, diambil dari Surah Al Kahfi (18:96). Bagi Oetoyo, mendalami agama, bukan rana fanatisme. Juga bukan politis. Mendalami agama bagi- nya adalah mendekatkan diri pada Allah. Tunduknya hamba terhadap Penciptanya. 
Biografi ditulis, ketika kisahnya dapat memberi inspirasi bagi orang lain. Seseorang perlu membuat sejarah kehidupan, bukan hanya ditujukan pada dirinya, tapi juga bisa dijadikan pelajaran bagi lainnya. Ada tiga pelajaran dan pengetahuan yang bisa diperoleh dalam membaca buku ini. Yaitu, tentang kehidupan, membangun usaha dan religi. 

Pelajaran pertama adalah bagaimana memahami fase kehidupan. Belajar tentang perjalanan hidup seseorang dalam meraih kesuksesan. Bagi Oetoyo, belum tentu anak pintar di masa kecil, akan sukses ketika dewasa. Adakalanya yang susah sewaktu kecil, jadi orang sukses dikemudian hari. Kenikmatan hidup kadang dipergilirkan Pencipta. 
Pendidikan formal bukan hanya satu-satunya tempat untuk belajar. Sewaktu SMP Oetoyo mendapatkan pengetahuan teknis dan mekanik diluar bangku sekolah. Ketika kuliah pun, ia mendapatkan ilmu marketing dari mengerjakan proyek di luar kampusnya Oetoyo menganggap kuliah sebagai jembatan sosialiasi membentuk jaringan bisnis dan relationship, selain mencari ilmu. 
Pelajaran kedua, orang biasa jadi pekerja, ataupun selamanya jadi pekerja bila dirasa sudah nyaman dan tidak perlu mengambil resiko kegagalan dalam usaha. Tapi untuk jadi pengusaha, juga tidak mudah. Butuh modal. Untuk mengumpulkan uang hasil kerja sebagai modal, juga bukan hal mudah. Sebaliknya, Oetoyo dalam hal ini tidak butuh modal, tapi kepercayaan. Uang justru datang sendiri karena ia punya kapabilitas dan talenta. Oetoyo akhirnya berhasil membangun usaha dari rintisan, mulai kecil hingga jadi industri. Refindo berawal dari bengkel rumahan jadi industri yang memiliki banyak karyawan. Kini Refindo telah jadi rumah kedua bagi karyawannya. 
Pelajaran ketiga, mempelajari agama, tidak selalu ber- 
kaitan dengan kebahagiaan spiritual. Justru sebagai sifat ketertundukan dan terima kasih kepada Pencipta. Agama ada- lah cara Allah memberi petunjuk pada manusia, bagaimana seharusnya manusia berbuat dalam kehidupan. Dari renungan itu, Oetoyo begitu banyak mendekat pada sang Pencipta. Oetoyo banyak belajar agama. Mengkaji ilmu agama dari para ustadz. Cara Oetoyo mendalami agama juga diterapkan kepada karyawannya. 
Seorang pengusaha, bisa jadi ibadahnya kurang, karena waktunya dihabiskan bekerja. Kesibukan dunianya kadang membatasi orang beribadah. Sebaliknya, seorang ibadahnya kuat, kerja dunia kurang. Oetoyo selalu perhatian dalam membagi waktu antara kerja dan ibadah. 
Tatkala seorang pengusaha sibuk untuk mengum- pulkan keuntungannya, ia lupa kepada orang yang berjasa kepadanya. Ia berpikir untuk investasi dan pengemba- ngan perusahaan sebagai masa depannya. Padahal, tatkala meninggal, pengusaha tak membawa apapun yang telah diusahakan nya. Oleh sebab itu, bagi Oetoyo, amal ibadah selalu jadi perhatian. Apa yang didapat dari bekerja, seharusnya sebagaian pendapatan dibelanjakan untuk membantu orang lain. 

Dr. H. Yuyung Abdi, S.Si., M.Med.Kom 
Penulis buku, fotografer professional dan dosen pasca sarjana 

Judul buku Biografi: 
Perjalanan Hidup Slamet Oetomo Membangun Bisnis dari Potongan Besi
Hard cover
189 halaman
Ukuran 16 x 24 cm
ISBN 978-602-473-396-4

Post a Comment

0 Comments